
Di tengah derasnya arus informasi digital, ketika jutaan pesan, video, dan opini melintas setiap hari di layar telepon genggam, ada satu pertanyaan sederhana yang patut kita renungkan pada peringatan kelahiran Bung Karno,pada 6 Juni 2026: masihkah kita mengenal pemikiran para pendiri bangsa, atau kita hanya mengenal nama dan wajah mereka?
Bagi sebagian besar rakyat Indonesia, nama Bung Karno tentu tidak asing. Ia adalah Proklamator Kemerdekaan, Presiden pertama Republik Indonesia, dan tokoh sentral yang ikut merumuskan fondasi kebangsaan Indonesia modern. Namanya diabadikan menjadi nama jalan, bandara, gedung, dan berbagai institusi di seluruh penjuru negeri. Foto dirinya terpajang di ruang-ruang kelas dan kantor pemerintahan. Pidato-pidatonya sering dikutip dalam berbagai kesempatan.
Namun di balik semua penghormatan itu, ada pertanyaan yang jarang diajukan. Berapa banyak di antara kita yang pernah membaca karya-karyanya secara utuh? Berapa banyak generasi muda yang mengenal Bung Karno melalui pemikirannya, bukan sekadar melalui pelajaran sejarah di sekolah?
Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Zaman telah berubah. Cara manusia memperoleh pengetahuan pun ikut berubah. Generasi hari ini hidup di tengah banjir informasi yang tidak pernah dialami generasi sebelumnya. Mereka dapat mengetahui berbagai peristiwa dunia hanya dalam hitungan detik. Namun justru di tengah kemudahan itu, ada risiko yang perlahan muncul: semakin jauh dari akar pemikiran yang pernah membentuk identitas bangsa.
Padahal Bung Karno bukan hanya seorang pemimpin politik. Ia adalah seorang pembaca yang rakus terhadap ilmu pengetahuan, seorang penulis yang produktif, dan seorang pemikir yang sepanjang hidupnya berusaha menjawab satu pertanyaan besar: bagaimana menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur?
Jawaban atas pertanyaan itulah yang tersebar dalam berbagai tulisan, pidato, dan buku yang ditinggalkannya. Sayangnya, sebagian besar karya tersebut kini lebih sering disebut daripada dibaca.
Ketika Bung Karno menulis “Indonesia Menggugat”, Indonesia masih berada dalam belenggu penjajahan. Buku yang berasal dari pidato pembelaannya di hadapan pengadilan kolonial Belanda itu memperlihatkan keberanian seorang anak bangsa yang menolak menerima anggapan bahwa bangsanya ditakdirkan untuk terus berada di bawah kekuasaan orang lain. Yang menarik, kekuatan utama buku tersebut bukanlah kemarahan terhadap penjajahan, melainkan keyakinan terhadap kemampuan bangsa Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri.
Semangat itu terasa tetap relevan pada tahun 2026. Indonesia memang telah lama merdeka, tetapi tantangan untuk menjadi bangsa yang benar-benar percaya pada kemampuannya sendiri masih terus ada. Dalam persaingan global yang semakin ketat, dalam perlombaan teknologi yang berlangsung begitu cepat, dan dalam kompetisi ekonomi antarnegara yang semakin kompleks, bangsa ini membutuhkan kepercayaan diri yang sama seperti yang pernah ditanamkan Bung Karno kepada generasinya.
Kita membutuhkan keberanian untuk meyakini bahwa Indonesia bukan sekadar pasar bagi produk bangsa lain, tetapi juga mampu menjadi pencipta, inovator, dan pelaku utama dalam pembangunan masa depannya sendiri.
Hal yang sama dapat ditemukan dalam “Pemuda Kembali”. Melalui karya tersebut, Bung Karno berbicara tentang peran generasi muda sebagai penggerak sejarah. Ia memahami bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak hanya terletak pada sumber daya alam atau kekuatan ekonomi, tetapi juga pada kualitas generasi yang akan memimpin masa depannya.
Pesan itu terasa sangat dekat dengan kondisi Indonesia saat ini. Bangsa ini sedang menikmati bonus demografi yang sering disebut sebagai peluang emas menuju Indonesia Emas 2045. Namun bonus demografi hanya akan menjadi berkah apabila diiringi dengan kualitas sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, dan memiliki kesadaran kebangsaan yang kuat.
Di era digital, tantangan generasi muda bukan lagi penjajahan fisik seperti yang dihadapi generasi Bung Karno. Tantangan mereka adalah bagaimana tetap memiliki identitas di tengah dunia yang semakin tanpa batas. Bagaimana menjadi warga global tanpa kehilangan kecintaan terhadap tanah air. Bagaimana memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.
Bung Karno seolah telah mengingatkan bahwa kemajuan tidak cukup hanya diukur dari kecerdasan intelektual, tetapi juga dari karakter dan rasa tanggung jawab terhadap bangsa.
Pemikiran yang tidak kalah penting dapat ditemukan dalam kumpulan pidato dan tulisan yang kemudian dihimpun dalam “Di Bawah Bendera Revolusi”. Di dalamnya tergambar keyakinan Bung Karno bahwa Indonesia adalah proyek besar peradaban yang dibangun di atas keberagaman.
Nasionalisme yang diperjuangkannya bukan nasionalisme yang sempit dan eksklusif. Ia bukan nasionalisme yang dibangun atas kebencian kepada pihak lain. Nasionalisme Bung Karno adalah nasionalisme yang melahirkan rasa percaya diri, persatuan, dan optimisme untuk membangun masa depan bersama.
Pandangan seperti ini terasa sangat berharga bagi Indonesia saat ini. Di tengah perbedaan pilihan politik, perbedaan latar belakang sosial, perbedaan agama, suku, maupun pandangan hidup, bangsa Indonesia membutuhkan lebih banyak titik temu daripada titik pisah. Kita membutuhkan lebih banyak ruang dialog daripada ruang pertentangan. Kita membutuhkan lebih banyak semangat persatuan daripada semangat saling meniadakan.
Karena pada akhirnya, Indonesia tidak dibangun oleh satu kelompok, satu golongan, atau satu generasi. Indonesia dibangun oleh kebersamaan seluruh anak bangsa.
Di antara berbagai gagasan Bung Karno, mungkin tidak ada yang lebih relevan bagi kehidupan Indonesia modern selain semangat gotong royong. Bahkan Bung Karno pernah menempatkan gotong royong sebagai inti dari kehidupan berbangsa. Baginya, gotong royong bukan sekadar tradisi sosial, melainkan cara pandang terhadap kehidupan bersama.
Nilai itu tetap hidup hingga hari ini. Ketika masyarakat saling membantu saat terjadi bencana, ketika warga bekerja bersama membangun lingkungannya, ketika berbagai elemen bangsa bergandengan tangan menghadapi tantangan bersama, di situlah sesungguhnya semangat gotong royong terus menemukan maknanya.
Di tengah kecenderungan dunia yang semakin individualistik, gotong royong tetap menjadi salah satu kekuatan khas Indonesia yang tidak boleh hilang.
Membaca kembali karya-karya Bung Karno bukan berarti mengajak bangsa ini kembali ke masa lalu. Sejarah tidak berjalan mundur. Indonesia hari ini menghadapi tantangan yang berbeda dengan Indonesia pada masa perjuangan kemerdekaan.
Namun setiap bangsa memerlukan fondasi nilai untuk menghadapi perubahan zaman. Bangsa yang melupakan akar pemikirannya akan mudah kehilangan arah ketika menghadapi berbagai perubahan besar.
Karena itu, membaca Bung Karno sesungguhnya bukan soal mengenang seorang tokoh. Membaca Bung Karno adalah membaca kembali optimisme. Membaca keberanian untuk bermimpi besar. Membaca keyakinan bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan. Membaca semangat untuk membangun Indonesia yang lebih maju tanpa kehilangan jati dirinya.
Menjelang satu abad kemerdekaan pada tahun 2045, Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar pertumbuhan ekonomi, kemajuan teknologi, atau pembangunan fisik yang megah. Bangsa ini juga membutuhkan generasi yang memahami sejarahnya, menghargai warisan pemikiran para pendirinya, dan mampu menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam tantangan zaman yang baru.
Mungkin karena itulah buku-buku Bung Karno layak dibuka kembali. Bukan karena kita ingin hidup di masa lalu, melainkan karena masa depan membutuhkan arah. Dan sering kali, arah itu dapat ditemukan dalam gagasan-gagasan besar yang pernah ditinggalkan oleh mereka yang ikut membangun bangsa ini sejak awal.
Pada akhirnya, warisan terbesar Bung Karno bukanlah jabatan yang pernah diembannya, bukan pula monumen yang dibangun untuk mengenangnya. Warisan terbesar itu adalah keyakinan bahwa Indonesia adalah bangsa besar yang mampu berdiri di atas kekuatannya sendiri, menjaga persatuannya di tengah keberagaman, dan terus melangkah maju dengan penuh percaya diri.
Selama keyakinan itu tetap hidup di hati rakyat Indonesia, selama itu pula pemikiran Bung Karno akan tetap relevan. Bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dibaca, dipahami, dan dijadikan inspirasi dalam membangun masa depan Indonesia.
* Budi Prasetiyo, Dewan Redaksi NUSAREPORT.Com
NUSAREPORT “Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta.”