NUSAREPORT-Bandung, Sabtu 18 April 2026,- Lebih dari tujuh dekade lalu, Bandung menjadi saksi lahirnya sebuah visi besar: dunia yang bebas dari dominasi, setara dalam martabat, dan berdaulat dalam menentukan nasib sendiri, prinsip yang kemudian dirumuskan dalam Dasasila Bandung.

Prinsip-prinsip yang lahir dari Konferensi Asia Afrika 1955 itu ,menghormati kedaulatan, menolak intervensi, dan mendorong kerja sama damai, merupakan warisan diplomasi yang semakin relevan di tengah dunia yang kian terpolarisasi.

Polarisasi global saat ini tidak hanya terbatas pada persaingan antarnegara besar, tetapi juga menjadi ancaman nyata terhadap tatanan multilateral yang selama ini melindungi negara-negara berkembang.

Di tengah eskalasi konflik, perang dagang, serta tekanan geopolitik yang semakin keras dan agresif, nilai-nilai Konferensi Asia Afrika menjadi landasan realistis untuk membangun solidaritas Selatan-Selatan yang bermartabat.

Di sinilah Dasasila Bandung kembali menemukan urgensinya sebagai kompas moral bagi bangsa-bangsa yang menolak tunduk pada satu blok kekuatan mana pun.

Isi Dasasila Bandung adalah sebagai berikut:

  • Menghormati hak-hak dasar manusia serta tujuan dan asas yang termuat dalam Piagam PBB
  • Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa
  • Mengakui persamaan semua suku bangsa dan persamaan semua bangsa, baik besar maupun kecil
  • Tidak melakukan intervensi atau campur tangan dalam urusan dalam negeri negara lain
  • Menghormati hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri, baik secara sendiri maupun kolektif sesuai dengan Piagam PBB
  • Tidak menggunakan peraturan pertahanan kolektif untuk kepentingan khusus salah satu negara besar dan tidak melakukannya terhadap negara lain
  • Tidak melakukan tindakan atau ancaman agresi maupun penggunaan kekerasan terhadap integritas wilayah atau kemerdekaan politik suatu negara
  • Menyelesaikan perselisihan internasional dengan cara damai, seperti perundingan, persetujuan, arbitrase, atau cara damai lain sesuai pilihan pihak yang bersangkutan dan sejalan dengan Piagam PBB
  • Memajukan kepentingan bersama dan kerja sama
  • Menghormati hukum serta kewajiban internasional

Indonesia sebagai Tuan Rumah KAA dan Dasasila Bandung

Indonesia, sebagai tuan rumah bersejarah konferensi tersebut, memikul tanggung jawab moral yang besar.

Di masa ketika banyak negara dipaksa memilih kubu, dengan semangat Dasasila Bandung, Indonesia dapat menegaskan kembali posisinya sebagai jembatan—bukan karena menghindari sikap, melainkan karena meyakini bahwa dialog dan keadilan adalah jalan yang lebih kuat menuju perdamaian dunia.

Kementerian Luar Negeri RI menyatakan Indonesia akan terus menyuarakan nilai-nilai KAA yang tertuang dalam Dasasila Bandung sebagai perekat solidaritas negara berkembang sekaligus solusi konflik global.

Juru bicara Kemlu RI, Vahd Nabyl A Mulachela, menegaskan diplomasi Indonesia akan terus mengusung nilai-nilai tersebut di berbagai forum, khususnya dalam menyuarakan isu perdamaian dunia di tengah konflik global.

Pengamat hubungan internasional Universitas Indonesia, Syaroni Rofi’i, menilai Dasasila Bandung sejalan dengan prinsip Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), seperti penghormatan terhadap nilai universal, kedaulatan, dan tatanan dunia yang adil.

“Nilai dan semangatnya tetap relevan. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana mengamplifikasinya menjadi gerakan moral baru di negara-negara Asia Afrika,” kata Syaroni.

Menurut dia, tantangan utamanya adalah menyatukan persepsi terkait agenda masa depan bersama, mengingat kompleksitas isu global menuntut program nyata yang mampu mengikat negara-negara Asia Afrika.

Ia juga menekankan pentingnya memperkuat koordinasi, baik di tingkat eksekutif maupun legislatif, serta memfokuskan kerja sama pada peningkatan kapasitas kelembagaan dan sumber daya manusia, terutama dalam menghadapi tantangan ekonomi dan perubahan iklim global.

Dasasila Bandung adalah Pilihan untuk Hari Ini

Semangat Bandung bukan sekadar kenangan sejarah, ia adalah pilihan sikap yang harus terus diperbarui oleh setiap generasi yang mewarisinya.

Di tengah dunia yang semakin gaduh oleh rivalitas kekuatan besar, Dasasila Bandung mengingatkan bahwa perdamaian bukan hadiah dari negara kuat, melainkan hak yang harus diperjuangkan bersama oleh bangsa-bangsa yang berdaulat dan bermartabat.

Namun, relevansi Konferensi Asia Afrika 1955 tidak ditentukan oleh seberapa sering ia disebut dalam pidato, melainkan sejauh mana nilai-nilainya diwujudkan dalam kebijakan nyata, menolak tekanan, menjunjung keadilan, dan berani berbeda dari arus dominan.

Menurut Syaroni, semangat KAA tetap relevan karena momentum sejarahnya sering menjadi acuan kebijakan luar negeri negara-negara Asia Afrika, meskipun kini lebih berfokus pada respons terhadap dinamika politik kawasan dibandingkan melawan imperialisme.

Ia menambahkan bahwa warisan diplomasi Asia-Afrika tersebut dapat dihidupkan melalui penguatan kerja sama dan kapasitas diplomasi di forum multilateral seperti PBB guna mendukung penyelesaian konflik kawasan.

Indonesia, sebagai bagian penting dari KAA 1955, dapat berinisiatif menyatukan gagasan negara-negara Asia Afrika untuk merumuskan strategi menghadapi dinamika geopolitik sekaligus menjadi bagian dari solusi atas ketidakadilan global.

Pemerintah Indonesia juga perlu menggelorakan kembali semangat perjuangan bangsa, terutama di kalangan generasi muda, dalam menghadapi dunia yang semakin terpecah akibat rivalitas dan agresivitas kekuatan besar.

Konferensi Asia Afrika dan Dasasila Bandung membuktikan bahwa bangsa-bangsa yang bukan bagian dari kekuatan besar pada 1955 mampu merumuskan visi perdamaian yang tetap relevan hingga kini.

Visi tersebut semakin dibutuhkan saat multilateralisme terancam dan solidaritas antarbangsa diuji oleh kepentingan sempit kekuatan dominan.

Pada akhirnya, dunia tidak membutuhkan blok kekuatan yang saling mengancam. Dunia membutuhkan ruang di mana bangsa-bangsa duduk setara, berbicara jujur, dan membangun masa depan bersama tanpa rasa takut.

Semangat itu masih hidup, dan kini Indonesia sebagai salah satu penggagas Konferensi Asia Afrika 1955 berkewajiban menjaganya agar tetap menyala.

Ibarat lilin di tengah kegelapan, semangat tersebut harus ditempatkan tinggi agar memberi terang dan dapat dilihat oleh semua pihak.

( Sumber ANTARA- Cindy Frishanti Octavia Sabtu, 18 April 2026 )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *