NUSAREPORT- Jakarta, Kamis 30 April 2026,- Direktur Utama Perum LKBN ANTARA, Benny Siga Butarbutar, menegaskan bahwa fungsi hubungan masyarakat (humas) tidak lagi relevan jika hanya berperan sebagai “pemadam kebakaran” yang muncul saat krisis terjadi. Dalam lanskap komunikasi yang semakin kompleks, humas dituntut menjadi aktor strategis yang proaktif dan adaptif.

“Transformasi untuk humas, humas di sini harus proaktif. Tidak bisa lagi jadi pemadam kebakaran, tapi dia juga harus aktif,” kata Benny saat menjadi narasumber dalam sesi kelas strategi komunikasi pada Kopdar Humas Imigrasi 2026 dikutip dari Cibubur.Rabu 29/4/2026.

Ia menjelaskan, perubahan lanskap komunikasi menuntut pergeseran pendekatan, dari birokratis menjadi berbasis respons publik. Dalam konteks itu, humas diposisikan sebagai pusat komando narasi yang menentukan arah komunikasi institusi.

Menurut Benny, transformasi tersebut mencakup perubahan cara kerja yang mendasar: dari menunggu arahan menjadi membaca situasi, dari sekadar menjawab menjadi mengelola ekspektasi, serta dari klarifikasi menuju pembangunan kepercayaan publik.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa humas tidak boleh hanya aktif saat krisis muncul. Perencanaan strategis, pemetaan pemangku kepentingan, hingga kampanye komunikasi yang konsisten dan berkelanjutan menjadi keharusan.

Sorotan utama disampaikan pada fase awal krisis. Benny menekankan bahwa satu jam pertama menjadi penentu arah penanganan.
“Krisis sekarang akan semakin sering karena globalisasi itu menciptakan kompleksitas dan arahnya chaos, makanya krisis itu harus dipahami di 60 menit pertama, ini pertarungannya di sini,” ujarnya.

Dalam situasi tersebut, kecepatan respons menjadi prinsip kunci.
“Di era sekarang, kalau tidak dijawab cepat maka kita yang akan digulung lebih,” katanya.

Namun, ia mengingatkan bahwa kecepatan tidak boleh mengorbankan akurasi. Jika data belum lengkap, pendekatan “yes, but” dapat digunakan, memberikan respons awal sambil melengkapi informasi yang dibutuhkan.

Benny juga menegaskan larangan penggunaan pernyataan “no comment” dalam krisis.
“Never say (jangan pernah katakan) ‘no comment’. Kenapa? Karena ‘no comment’ sebenarnya dianggap sebagai kesalahan. Makanya kalau orang dikasih jawaban ‘no comment’, langsung digeber, dicecar,” tegasnya.

Dalam konteks pemulihan reputasi, ia menilai permintaan maaf semata tidak cukup. Ada tiga syarat agar permintaan maaf kredibel di mata publik.
“Minta maaf itu bukan berarti selesai semuanya. Minta maaf dituntut satu, autentik tidak minta maafnya? Kedua, dia dibuktikan tidak dengan tindak lanjutnya? Yang ketiga, corrective action-nya (langkah perbaikan) dilakukan tidak?” jelasnya.

Menutup paparannya, Benny mengingatkan bahwa reputasi yang dibangun bertahun-tahun dapat runtuh dalam hitungan menit jika tidak dikelola secara serius dan berkelanjutan.

Kopdar Humas Imigrasi sendiri merupakan agenda tahunan yang digelar oleh Fungsi Komunikasi Publik Direktorat Jenderal Imigrasi, dihadiri ratusan kepala kantor imigrasi dan rumah detensi dari seluruh Indonesia.

Dalam kesempatan terpisah pada Seminar Komunikasi dan Kehumasan yang digelar Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia di Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari, Banjarmasin, dikutip Sabtu 25/4/2026, Benny kembali menekankan posisi strategis humas dalam ekosistem informasi.

“Keberadaan humas justru dibutuhkan untuk memperkuat alur penyampaian informasi agar lebih tertata dan dapat dipertanggungjawabkan. Humas itu partner strategis media untuk mendapatkan flow informasi yang berkualitas,” kata dia.

Ia menambahkan, humas berperan dalam mengelola pesan dari instansi pemerintah maupun korporasi agar selaras dengan konteks dan kebutuhan masyarakat. Meski demikian, media tetap memegang peran penting dalam menjaga standar jurnalistik, mulai dari verifikasi hingga relevansi informasi bagi publik.

NUSAREPORT “Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *