
NUSAREPORT-Jakarta,Rabu 17 Juni 2026,- Pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang terus meningkat dinilai harus mampu memberikan manfaat nyata bagi perekonomian nasional dan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah menegaskan bahwa besarnya transaksi digital tidak otomatis mencerminkan kekuatan ekonomi apabila nilai tambah yang tercipta justru lebih banyak mengalir ke platform global yang berbasis di luar negeri.
Hal tersebut disampaikan Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid saat menjadi pembicara dalam forum ekonomi digital di Jakarta, Rabu.17/6/2026. Menurutnya, Indonesia harus mulai mengubah pertumbuhan ekonomi digital menjadi kekuatan ekonomi yang sesungguhnya melalui strategi yang berorientasi pada retensi nilai dan peningkatan produktivitas sektor riil.
“Angka yang besar tidak otomatis berarti kekuatan yang lebih besar. Karena itu, kita harus memastikan pertumbuhan digital dapat diterjemahkan menjadi manfaat ekonomi yang nyata bagi Indonesia,” ujar Meutya.
Ia menjelaskan, pendekatan pertama adalah memastikan nilai ekonomi yang dihasilkan dari aktivitas digital tetap lebih banyak berada di dalam negeri. Strategi ini mencakup pembangunan infrastruktur digital nasional, penguatan ekosistem usaha domestik, serta distribusi manfaat ekonomi yang lebih adil sehingga tidak hanya dinikmati oleh perusahaan teknologi global.
Menurut Meutya, langkah tersebut sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya menjaga nilai ekonomi nasional agar tidak terus mengalir keluar negeri.
“Sederhananya, kita ingin mempertahankan lebih banyak hasil dari apa yang kita bangun di dalam negeri,” katanya.
Pendekatan kedua adalah menciptakan limpahan produktivitas (productivity spillover), yaitu memastikan digitalisasi mampu meningkatkan produktivitas sektor ekonomi riil seperti pertanian, perikanan, UMKM, hingga industri manufaktur.
Sebagai contoh, seorang nelayan yang memanfaatkan platform digital dapat menjual hasil tangkapannya langsung ke pasar dengan harga yang lebih baik sehingga memperoleh pendapatan lebih besar tanpa harus meningkatkan beban kerja.
“Pertumbuhan platform bukan tujuan akhir. Kekuatan yang sesungguhnya adalah ketika nilai ekonomi tetap berada di dalam negeri dan produktivitas meningkat di seluruh sektor ekonomi riil,” tegas Meutya.
Potensi Indonesia dalam ekonomi digital dinilai sangat besar. Dengan jumlah penduduk sekitar 281 juta jiwa atau hampir 40 persen populasi ASEAN, serta sekitar 186 juta penduduk usia produktif, Indonesia menjadi salah satu pasar digital terbesar di kawasan. Pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di kisaran 5 persen dan arus investasi asing langsung (FDI) yang mencapai sekitar 55 miliar dolar AS pada 2024 semakin memperkuat posisi strategis Indonesia dalam transformasi digital regional.
Pembahasan mengenai masa depan ekonomi digital Indonesia juga mengemuka dalam forum “China-Indonesia Digital Economy Forum: From Vision to Action” yang mempertemukan Association of Indonesia-China Economic, Social and Cultural Cooperation (AICCC) dan China Development Institute (CDI) dari Provinsi Guangdong, China.
Ketua AICCC Sudrajat menegaskan bahwa kerja sama Indonesia dan China di bidang ekonomi digital tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat dan penciptaan peluang ekonomi yang inklusif.
“Pengguna ekonomi digital di Indonesia sangat besar. Ini merupakan peluang yang harus dimanfaatkan bukan sekadar menjadikan Indonesia sebagai pasar, tetapi sebagai sarana meningkatkan kesejahteraan rakyat,” ujar Sudrajat yang juga pernah menjabat Duta Besar RI untuk China periode 2005-2009.
Sementara itu, Wakil Presiden CDI Guo Wanda menilai bonus demografi Indonesia dan tingginya penetrasi internet membuka peluang besar bagi kolaborasi digital kedua negara, terutama dalam pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Menurutnya, AI telah menjadi salah satu prioritas strategis pembangunan China dalam lima tahun mendatang dan akan diterapkan secara luas di berbagai sektor ekonomi.
Pandangan serupa disampaikan Direktur Komunikasi Strategis Tencent, Fanny Liao. Ia menilai perkembangan model bahasa besar atau Large Language Model (LLM) yang semakin terjangkau akan mempercepat adopsi teknologi AI oleh pelaku usaha maupun pengembang teknologi di berbagai negara.
Di sisi lain, Dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus Ketua Indonesia Chip Design Collaborative Center (ICDEC), Trio Adiono, mengungkapkan bahwa pengembangan semikonduktor dan kecerdasan buatan kini telah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029.
Menurut Trio, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan industri semikonduktor berbasis desain cip (fabless semiconductor), yang saat ini menjadi salah satu segmen dengan nilai pasar terbesar dalam rantai industri semikonduktor global.
“Kami ingin memperluas kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk China, serta membangun ekosistem yang melibatkan industri, pemerintah, akademisi, dan komunitas baik di tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa ekonomi digital Indonesia telah memasuki fase baru. Tantangan ke depan bukan lagi sekadar memperluas akses dan meningkatkan jumlah pengguna internet, melainkan memastikan transformasi digital mampu menciptakan nilai tambah, memperkuat daya saing nasional, serta memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.
NUSAREPORT “Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta”