Sungai Kembali Keruh, Masyarakat Bathin II Pelayang Kembali Blokir Jalan..

NUSAREPORT-Bathin II Pelayang, Bungo — Keresahan masyarakat terkait kondisi air dan aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) kembali mencuat. Senin (21/9/2026), sejumlah masyarakat Kecamatan Bathin II Pelayang secara spontan memasang barikade kayu di badan jalan sebagai bentuk protes dan penyampaian aspirasi kepada pemerintah daerah serta aparat terkait.

Aksi kali ini disebut masyarakat sebagai tindakan spontan. Mereka mengaku kembali bergerak setelah melihat kondisi sungai yang sebelumnya sempat membaik, namun belakangan kembali mengalami perubahan dan terlihat keruh. Di lokasi aksi, masyarakat memasang sejumlah poster. Salah satunya bertuliskan Stop Penambangan PETI di Batang Tebo!!!”, sementara poster lainnya berbunyi “Kami Tidak Butuh Janji!!! Kami Butuh Air yang Jernih!!!” Dua pesan tersebut menjadi gambaran utama keresahan warga: mereka membutuhkan air bersih dan meminta perhatian serius terhadap aktivitas di wilayah hulu Batang Tebo.

Pernah Diblokade, Sungai Sempat Bersih

Seorang masyarakat yang berada di lokasi dan meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengatakan, aksi kali ini bukan kejadian pertama. Menurutnya, beberapa waktu lalu masyarakat juga pernah melakukan pemblokiran jalan untuk menyampaikan keresahan yang sama. Setelah aksi tersebut, masyarakat melihat kondisi sungai yang menurut mereka sempat kembali bersih. Namun belakangan, kondisi sungai kembali dikeluhkan karena terlihat keruh.

“Beberapa waktu lalu jalan ini pernah diblokade juga. Setelah itu sungai kembali bersih. Sekarang keruh kembali, makanya masyarakat spontan melakukan aksi lagi,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi alasan masyarakat mempertanyakan bagaimana persoalan di wilayah hulu ditangani secara berkelanjutan. Mereka tidak ingin setiap kali kondisi membaik, persoalan dianggap selesai, tetapi ketika kondisi kembali berubah, masyarakat harus kembali turun ke jalan.

Pemerintah Diminta Tidak Hanya Datang Saat Ada Aksi

Masyarakat berharap pemerintah melihat persoalan ini sebagai masalah yang membutuhkan pengawasan berkelanjutan, bukan sekadar penanganan ketika aksi berlangsung. Menurut mereka, apabila sebelumnya sudah pernah ada penanganan dan kondisi sungai sempat membaik, maka perubahan kondisi yang kembali terjadi seharusnya menjadi bahan evaluasi. Pertanyaannya bukan siapa yang harus disalahkan, melainkan mengapa persoalan yang sama kembali dirasakan masyarakat dan apa langkah pemerintah untuk mencegahnya terus berulang.

“Kami tidak butuh janji. Kami butuh tindakan nyata. Kalau memang ada persoalan PETI, kami berharap penanganannya dilakukan sesuai aturan dan sampai ke wilayah hulunya,” ujar warga tersebut.

Kritik masyarakat diarahkan pada perlunya pemerintah memberikan jawaban yang jelas dan tindakan yang terukur Masyarakat ingin mengetahui apakah kondisi sungai sudah diperiksa, apakah aktivitas di wilayah hulu sudah dipantau, dan langkah apa yang akan dilakukan setelah aksi ini.

Jangan Tunggu Masyarakat Blokir Jalan Lagi

Berulangnya aksi menjadi pertanyaan tersendiri. Masyarakat berharap pemerintah tidak menjadikan aksi pemblokiran jalan sebagai satu-satunya momentum untuk turun dan melihat persoalan di lapangan. Sebab, apabila setiap keresahan baru mendapatkan perhatian setelah masyarakat melakukan aksi, maka pola tersebut dikhawatirkan akan terus berulang. Masyarakat justru meminta pemerintah *ebih aktif melakukan pemantauan sebelum persoalan kembali berkembang menjadi aksi.

“Kalau memang mau menyelesaikan, jangan tunggu masyarakat turun lagi. Turun ke lapangan, lihat kondisi sungai dan lihat apa yang terjadi di hulu,” kata warga tersebut.

Kritik itu sekaligus menjadi dorongan agar pemerintah meningkatkan komunikasi dengan masyarakat. Jika terdapat aktivitas yang diduga tidak sesuai ketentuan, masyarakat meminta dilakukan pemeriksaan. Jika terbukti melanggar, tentu penanganannya dapat dilakukan sesuai aturan. Namun jika kondisi air ternyata dipengaruhi faktor lain, masyarakat juga meminta pemerintah menjelaskan hasil pemeriksaan tersebut secara terbuka.

Air Bersih Adalah Tuntutan Utama

Di balik persoalan PETI, terdapat tuntutan yang lebih mendasar: air bersih. Masyarakat mengatakan kebutuhan air merupakan persoalan yang telah lama mereka rasakan.

 “Kami butuh air bersih. Stop aktivitas PETI di hulu Batang Tebo,” ujarnya.

Ia juga menyebut banyak masyarakat yang telah lama menghadapi kondisi kekeringan dan membutuhkan sumber air yang layak.

“Masyarakat banyak yang seumur hidupnya mengalami kondisi kering dan membutuhkan air bersih,” tambahnya.

Karena itu, masyarakat berharap pemerintah tidak hanya membahas persoalan PETI dari sisi penertiban, tetapi juga menghadirkan solusi terhadap kebutuhan air bersih. Apa pun penyebab perubahan kondisi air, masyarakat tetap membutuhkan air yang layak digunakan.

Pemerintah Ditunggu Jawabannya

Aksi spontan Senin (21/9/2026) seharusnya menjadi momentum evaluasi. Masyarakat telah menyampaikan keluhan. Mereka juga telah menyampaikan tuntutan secara terbuka. Kini yang ditunggu adalah langkah konkret pemerintah dan aparat terkait.

Bukan sekadar mendatangi lokasi ketika jalan diblokade, tetapi memastikan kondisi sungai diperiksa, wilayah hulu dipantau, masyarakat mendapatkan penjelasan, dan setiap dugaan pelanggaran ditangani berdasarkan hasil pemeriksaan. Masyarakat tidak meminta pemerintah mengambil kesimpulan tanpa bukti. Mereka meminta pemerintah memastikan fakta di lapangan.

Sebab apabila kondisi sungai memang kembali keruh, masyarakat berhak mengetahui apa penyebabnya. Jika terdapat aktivitas yang melanggar aturan, masyarakat berhak mengetahui langkah penindakannya. Dan jika penyebabnya bukan berasal dari aktivitas yang mereka persoalkan, masyarakat juga berhak mendapatkan penjelasan. Yang tidak diinginkan masyarakat adalah persoalan kembali reda setelah aksi, kemudian muncul lagi beberapa waktu kemudian.

Sebelumnya jalan pernah diblokade. Sungai disebut sempat kembali bersih. Kini sungai kembali dikeluhkan keruh dan masyarakat kembali turun ke jalan. Pola seperti ini seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah untuk mencari penyelesaian yang lebih menyeluruh, bukan sekadar meredakan situasi setiap kali aksi terjadi.

Tuntutan masyarakat pun tetap sederhana: Air bersih,  Pengawasan dan penanganan aktivitas di hulu Batang Tebo sesuai aturan, dan yang paling penting, kepastian bahwa persoalan ini tidak terus berulang hingga masyarakat kembali merasa perlu turun ke jalan.*Lojer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *