NUSAREPORT-Bungo,- Kembali, tim Universitas Jambi (UNJA) melakukan pelatihan dan pengenalan smart patrol berbasis masyarakat di Hutan Adat Datuk Rangkayo Mulio, Dusun Baru, Kecamatan Pelepat, Kabupaten Bungo, Minggu (4/10/2026). Kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat pengawasan kawasan hutan sekaligus menjaga fungsi hidrologi yang penting bagi keseimbangan lingkungan dan keberlanjutan sumber air.
Bersama Lembaga Pengelola Hutan Adat (LPHA) Datuk Rangkayo Mulio, tim dosen Universitas Jambi memperkenalkan sistem pengawasan hutan berbasis teknologi yang melibatkan masyarakat secara langsung. Melalui smart patrol, masyarakat didorong melakukan pemantauan kawasan, mencatat jalur patroli, mengidentifikasi potensi ancaman, serta mendokumentasikan kondisi hutan secara lebih terstruktur.
Ketua tim kegiatan, Femei Rahmilija, S.Hut., M.Si., menjelaskan bahwa penerapan teknologi tersebut bukan untuk menggantikan peran masyarakat adat, melainkan memperkuat sistem pengawasan yang telah berjalan.
“Teknologi ini bukan untuk menggantikan peran masyarakat adat dalam menjaga hutannya, melainkan memperkuat sistem pengawasan yang sudah berjalan agar data hasil patroli terdokumentasi lebih baik dan menjadi dasar kuat dalam pengelolaan hutan,” jelas Femei.
Dengan dukungan teknologi, hasil pemantauan lapangan diharapkan menjadi sumber informasi yang lebih akurat untuk mengenali potensi gangguan dan menentukan langkah perlindungan. Data yang terkumpul juga dapat membantu pengelola memahami kondisi kawasan, sehingga pengawasan tidak hanya mengandalkan pengalaman, tetapi juga didukung dokumentasi dan informasi spasial.
Lebih dari sekadar menjaga keamanan kawasan, kegiatan ini juga menyoroti pentingnya fungsi hidrologi hutan. Keberadaan hutan berperan dalam menyerap air hujan, menjaga kelembapan tanah, mengurangi limpasan permukaan, serta mempertahankan keseimbangan tata air. Ketika kawasan hutan mengalami kerusakan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh ekosistem, tetapi juga dapat memengaruhi ketersediaan air dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Pentingnya menjaga kelestarian alam juga menjadi perhatian tim observasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jambi yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Prof. Dr. Ir. Sri Arnita Abu Tani, M.S., menekankan bahwa konservasi alam memiliki cakupan yang jauh lebih luas daripada sekadar melindungi kawasan hutan.
“Konservasi alam bukan hanya tentang melindungi kawasan hutan, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan kehidupan manusia. Hutan memiliki fungsi yang sangat penting bagi lingkungan, mulai dari menjaga keanekaragaman hayati hingga mempertahankan tata air. Karena itu, upaya konservasi harus dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat sebagai bagian utama dari penjagaan alam.”
Keterlibatan masyarakat menjadi kunci karena mereka memiliki pengetahuan lokal dan hubungan langsung dengan kawasan hutan yang dikelola. Sementara itu, perguruan tinggi berperan memberikan dukungan keilmuan, pendampingan, dan teknologi untuk memperkuat kapasitas pengelolaan.
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua LPHA Datuk Rangkayo Mulio, Malek, bersama Wakil Ketua Suhaili. Turut hadir Susilawati, S.Pd., M.Ag., Abdul Rachman, S.Pd., Nyono Siswanto, Anas L., Srimanah, Jimun, Nida, dan Istiqomah.
Dari Universitas Jambi, tim dosen yang terlibat terdiri atas Femei Rahmilija, S.Hut., M.Si., Hafizah Nahlunnisa, S.Hut., M.Si., Bakti Mandala, S.Hut., M.Si., Wahyu Nazri Yandi, S.Hut., M.Si., serta Ir. Richard R.P. Napitupulu, S.Hut., M.Si. Sementara itu, tim observasi LPPM UNJA dihadiri Prof. Dr. Ir. Sri Arnita Abu Tani, M.S.
Kolaborasi antara perguruan tinggi dan LPHA ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam membangun sistem perlindungan hutan yang lebih partisipatif dan berkelanjutan. Meski demikian, keberhasilan smart patrol tidak cukup diukur dari pelatihan atau penggunaan teknologi. Konsistensi patroli, kemampuan mengolah hasil pemantauan, tindak lanjut terhadap temuan lapangan, serta dukungan kelembagaan menjadi faktor penting agar sistem ini memberikan dampak nyata.
Hutan Adat Datuk Rangkayo Mulio bukan sekadar kawasan yang harus dijaga batas-batasnya. Hutan ini juga menjadi penyangga lingkungan, penjaga tata air, dan bagian dari warisan alam yang perlu dipertahankan untuk generasi mendatang.
Melalui penguatan pengawasan berbasis masyarakat, upaya konservasi di Dusun Baru diharapkan semakin terarah. Sebab, menjaga hutan bukan hanya tentang mempertahankan pepohonan, melainkan juga melindungi sumber air, menjaga keseimbangan alam, dan memastikan keberlanjutan kehidupan masyarakat.







