Gen 60-an: Ketika Indonesia Tumbuh, Kami Pun Tumbuh..

Pendidikan81 Views

Kemerdekaan tidak pernah memiliki arti yang sama bagi setiap generasi. Bagi mereka yang mengalami langsung perjuangan merebut kemerdekaan, ia adalah tentang keberanian, pengorbanan dan kehilangan. Bagi generasi sesudahnya, kemerdekaan hadir sebagai kesempatan untuk membangun kehidupan. Dan bagi generasi yang lahir pada dekade 1960-an, kemerdekaan adalah sesuatu yang kami lihat tumbuh, sedikit demi sedikit, bersama perjalanan Indonesia.

Kami tidak mengalami perang kemerdekaan. Kami tidak melihat bagaimana para pejuang mempertaruhkan hidupnya di medan pertempuran. Tetapi kami tumbuh dari cerita orang tua yang pernah merasakan kerasnya zaman. Cerita itu sering disampaikan dengan sederhana, tentang hidup yang serba kekurangan, sulitnya mendapatkan pendidikan, dan bagaimana orang harus bekerja keras hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dari sanalah kami mulai memahami bahwa kemerdekaan bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya.

Kami tumbuh pada masa ketika kehidupan masih sederhana. Televisi hitam-putih menjadi barang istimewa. Radio menjadi teman keluarga dan jendela untuk mengenal dunia. Listrik belum menerangi semua rumah. Jalan belum semuanya beraspal. Tetapi di tengah keterbatasan itu, kami mengenal sesuatu yang hari ini terasa semakin mahal: kebersamaan.

Kami bermain bersama, belajar bersama dan tumbuh dalam lingkungan yang saling mengenal. Sekolah menjadi sesuatu yang sangat berarti. Bagi sebagian keluarga, menyekolahkan anak adalah sebuah perjuangan. Karena itu, ketika kami bisa duduk di bangku sekolah, membaca buku dan mengenakan seragam, kami merasakan bahwa kehidupan sedang membuka pintu yang sebelumnya tidak terbuka bagi generasi orang tua kami.

Lalu Indonesia bergerak.

Jalan mulai dibangun. Listrik masuk ke desa-desa. Sekolah bertambah. Puskesmas mulai berdiri. Kota-kota berkembang. Perlahan, kehidupan berubah.

Bagi orang lain, mungkin itu hanya pembangunan biasa. Tetapi bagi kami, setiap perubahan kecil seperti memiliki cerita. Kami melihat negeri ini yang dahulu serba terbatas perlahan belajar berdiri lebih tegak.

Ketika Indonesia tumbuh, kami pun tumbuh.

Kami memasuki usia dewasa, bekerja, membangun keluarga dan ikut mengambil bagian dalam kehidupan bangsa. Tidak semua dari kami menjadi pejabat atau tokoh penting. Sebagian menjadi guru, petani, pegawai, pedagang, pekerja, pengusaha dan berbagai profesi lainnya.

Nama kami mungkin tidak tercatat dalam sejarah.

Tetapi kami percaya, sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh orang-orang yang namanya dikenal. Indonesia juga dibangun oleh mereka yang setiap pagi berangkat bekerja, pulang membawa lelah, menyekolahkan anak, membayar kewajiban, membantu tetangga dan menjalani hidup dengan sebaik-baiknya.

Itulah bagian kami dalam perjalanan negeri ini.

Kini zaman telah berubah. Anak-anak dan cucu-cucu kami tumbuh dalam dunia yang berbeda. Mereka mengenal internet, telepon pintar dan teknologi yang bagi kami dahulu mungkin hanya ada dalam bayangan. Mereka dapat melihat dunia tanpa harus pergi ke mana-mana.

Kadang kami merasa terlalu lambat mengikuti zaman.

Tetapi mungkin memang bukan lagi tugas kami untuk selalu berada di depan.

Tugas kami sekarang adalah mengingatkan.

Kami ingin mengatakan kepada generasi muda bahwa apa yang mereka nikmati hari ini tidak muncul begitu saja. Ada generasi yang pernah hidup dalam keterbatasan agar generasi berikutnya memiliki lebih banyak pilihan. Ada orang tua yang menunda kesenangannya agar anak-anaknya dapat sekolah. Ada guru yang mengajar dengan fasilitas seadanya. Ada petani, buruh, pedagang dan pekerja yang menghabiskan hidupnya dalam kesederhanaan, tetapi tetap percaya bahwa Indonesia akan menjadi lebih baik.

Karena itu, kemerdekaan bukan hanya warisan. Ia juga amanah.

Generasi kami menerima Indonesia dari generasi sebelumnya dalam keadaan yang belum sempurna. Kami mengisinya dengan apa yang kami mampu. Kini giliran generasi muda meneruskan perjalanan itu.

Mereka tidak harus hidup seperti kami. Mereka tidak perlu kembali pada masa lalu. Setiap zaman memiliki tantangannya sendiri. Jika kami dahulu berjuang dengan keterbatasan sarana, mereka kini berjuang menghadapi derasnya informasi, persaingan global, perubahan teknologi dan berbagai persoalan baru yang mungkin belum pernah kami bayangkan.

Namun ada sesuatu yang tidak boleh berubah: rasa memiliki terhadap negeri ini.

Kami berharap generasi muda tidak hanya menjadi penonton perubahan. Jadilah bagian dari perubahan itu. Gunakan kebebasan untuk belajar, bekerja, berkarya dan menjaga sesama. Jangan biarkan kemajuan membuat kita kehilangan kepedulian.

Sebab Indonesia bukan hanya tentang gedung tinggi, jalan lebar atau teknologi canggih. Indonesia juga tentang manusia yang saling menghormati, tentang keluarga, tentang gotong royong, tentang keadilan dan tentang harapan.

perjalanan kemerdekaan adalah perjalanan antar-generasi.

Generasi terdahulu memberikan perjuangan. Generasi kami menerima dan mengisinya dengan kerja. Generasi hari ini menerima hasilnya sekaligus menghadapi tantangan baru. Dan generasi yang akan datang kelak akan menerima apa yang kita tinggalkan.

Di situlah kami memahami arti kemerdekaan dengan cara yang mungkin lebih sederhana.

Kemerdekaan bukan tentang siapa yang paling banyak menikmati hasilnya, tetapi tentang siapa yang bersedia menjaga dan meneruskannya.

Kami, Gen 60-an, mungkin sedang memasuki senja kehidupan. Rambut mulai memutih, langkah mulai melambat, tetapi harapan kepada Indonesia belum pernah benar-benar tua.

Kami hanya ingin melihat satu hal sebelum kelak menjadi bagian dari masa lalu: Indonesia yang kami cintai tetap menjadi rumah bagi semua generasi.

Jika dahulu kami tumbuh ketika Indonesia sedang membangun dirinya, kini kami ingin melihat generasi muda membawa Indonesia tumbuh lebih jauh.

Sebab ketika Indonesia tumbuh, kami pun tumbuh.

Dan ketika kami nanti berhenti tumbuh, biarlah harapan itu tetap hidup di tangan generasi berikutnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *