Karhutla Kepung Sumatera, Sumsel dan Jambi Masih Berjibaku Padamkan Api..

NUSAREPORT-Pos Palembang,  Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi ancaman serius di Pulau Sumatera. Sumatera Selatan menghadapi lonjakan kejadian dan titik panas, sementara di Provinsi Jambi sejumlah lokasi masih terbakar dan membutuhkan penanganan tim gabungan.

Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla tidak lagi dapat dilihat sebagai persoalan satu daerah. Pada saat sebagian kekuatan Manggala Agni diperkuat ke Sumatera Selatan, tim di Jambi juga masih berjibaku memadamkan api di sejumlah wilayah, terutama kawasan gambut yang membutuhkan proses pemadaman dan pendinginan lebih lama.

Kementerian Kehutanan memperkuat operasi di Sumatera Selatan dengan mengerahkan 299 personel Manggala Agni. Sebanyak 254 personel merupakan kekuatan yang bertugas di Sumsel, sedangkan 45 personel lainnya diperbantukan melalui skema Bantuan Kendali Operasi (BKO) dari Daops Sarolangun, Muara Tebo, dan Kota Jambi.

Penguatan personel tersebut dilakukan menyusul meningkatnya kejadian karhutla di sejumlah wilayah Sumsel, terutama Ogan Komering Ilir (OKI), Ogan Ilir, Muara Enim, dan Musi Banyuasin.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Kehutanan Dwi Januanto Nugroho yang berada di Sumatera Selatan untuk melakukan supervisi mengatakan prioritas penanganan saat ini adalah mengendalikan api sekaligus menekan dampak asap terhadap masyarakat.

“Prioritas kita sekarang mengendalikan api dan menekan dampak asap terhadap masyarakat. Manggala Agni sudah bekerja berhari-hari di lapangan. Logistiknya harus cukup, kesehatannya dijaga, peralatannya tersedia, dan rotasi pasukan berjalan,” ujar Dwi.

Kemenhut juga memperkuat operasi udara melalui patroli dan pemadaman water bombing. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) turut dilakukan untuk membantu meningkatkan peluang turunnya hujan di wilayah yang membutuhkan.

Berdasarkan data BPBD Sumatera Selatan hingga 21 Agustus 2026, tercatat 1.605 kejadian karhutla dengan indikasi luas terdampak mencapai 1.926,2 hektare.

Tren kejadian juga meningkat tajam. Pada Juli tercatat 456 kejadian, sedangkan pada Agustus jumlahnya telah mencapai 897 kejadian berdasarkan data yang digunakan dalam penanganan karhutla Sumsel.

Pada 22 Agustus, pemantauan menunjukkan sekitar 600 titik panas (hotspot) di Sumatera Selatan. Kabupaten OKI menjadi salah satu wilayah dengan konsentrasi titik panas tertinggi.

Namun, angka hotspot perlu dibaca secara hati-hati. Titik panas merupakan indikasi panas yang terdeteksi melalui sistem pemantauan dan tidak otomatis berarti seluruhnya merupakan kebakaran yang telah terverifikasi di lapangan. Karena itu, verifikasi lapangan tetap menjadi bagian penting dalam menentukan lokasi dan skala penanganan.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Kemenhut Ferdian Krisnanto mengatakan operasi saat ini difokuskan pada lokasi yang masih aktif dan menjadi sumber asap, terutama OKI, Ogan Ilir, dan Muara Enim.

“Pemadaman darat tetap menjadi kekuatan utama, didukung patroli udara, water bombing, dan Operasi Modifikasi Cuaca. Di lahan gambut, padam di permukaan belum berarti selesai, sehingga pendinginan terus dilakukan sampai bara di bawah permukaan benar-benar aman dan tidak kembali menghasilkan asap,” kata Ferdian.

Jambi juga masih menghadapi kebakaran.

Laporan terbaru menunjukkan tim gabungan masih melakukan pemadaman di Desa Muntialo, Kecamatan Betara, Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Penanganan di kawasan tersebut telah memasuki hari ketiga, dengan petugas menyisir areal yang masih mengeluarkan asap dan mencari sumber api yang berada di bagian utama lahan terbakar.

Kondisi menjadi lebih sulit karena lokasi kebakaran berada di kawasan gambut. Api yang terlihat di permukaan belum tentu menandakan seluruh titik telah aman. Bara dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali muncul apabila proses pendinginan tidak dilakukan secara menyeluruh.

Bahkan dalam laporan Manggala Agni pada Minggu (23/8), karhutla masih tercatat di empat lokasi di Provinsi Jambi, yakni Desa Pemayungan, Muntialo, Lubuk Kepayang, dan Ladang Peris. Pada saat yang sama, beberapa kebakaran lainnya di Jambi telah berhasil dipadamkan, antara lain di Kelurahan Teratai, Desa Ampelu Mudo, Bukit Tempurung, Kerang Mendapo, dan Desa Jebak.

Dengan demikian, Jambi bukan hanya menjadi daerah yang mengirim personel untuk memperkuat penanganan di Sumsel. Provinsi ini sendiri masih menghadapi sejumlah titik karhutla yang membutuhkan pengerahan personel, peralatan dan koordinasi lintas sektor.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa ancaman karhutla di wilayah Sumatera bagian selatan memiliki karakter yang saling berhubungan. Api muncul di sejumlah daerah dalam waktu yang relatif bersamaan ketika kondisi cuaca semakin kering.

Kementerian Kehutanan sebelumnya juga telah memperkuat operasi Manggala Agni di Jambi dan Sumatera Selatan, selain sejumlah wilayah Sumatera lainnya. Penanganan dilakukan melalui pemadaman, pendinginan, patroli serta pencegahan agar api tidak kembali muncul.

Di Sumsel, tantangan bahkan semakin kompleks karena kebakaran terjadi di sejumlah kawasan dengan karakteristik lahan berbeda. Di Muara Medak, Kabupaten Musi Banyuasin, misalnya, Manggala Agni sebelumnya menangani kebakaran dengan estimasi awal sekitar 115 hektare. Keterbatasan sumber air menjadi salah satu kendala petugas dalam memperluas operasi pemadaman.

Sementara di Jambi, kondisi lahan gambut membuat strategi penanganan tidak cukup hanya dengan memadamkan api yang terlihat. Pendinginan dan pemantauan lanjutan menjadi penting untuk memastikan bara di bawah permukaan benar-benar tidak kembali menyala.

Situasi ini menjadi peringatan bahwa karhutla di Sumatera bukan hanya persoalan pemadaman ketika api sudah membesar. Pencegahan dan deteksi dini justru menjadi kunci agar kebakaran tidak berkembang menjadi bencana yang lebih luas.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Masyarakat juga diminta tidak meninggalkan sumber api, termasuk ketika membakar sampah di kawasan yang rawan terbakar.

Di tengah kondisi tersebut, koordinasi antardaerah menjadi semakin penting. Pergerakan personel Manggala Agni dari satu daerah ke daerah lain menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan dukungan lintas wilayah. Namun, pengerahan bantuan juga harus berjalan seiring dengan memastikan kesiapsiagaan di daerah asal tetap terjaga.

Sebab, ketika Sumatera Selatan membutuhkan tambahan kekuatan, Jambi pada saat yang sama juga masih menghadapi api.

Karhutla kini bukan sekadar persoalan tentang berapa banyak hektare lahan yang terbakar. Persoalannya menyangkut keselamatan masyarakat, kualitas udara, keberlangsungan ekosistem gambut, aktivitas ekonomi, hingga kemampuan pemerintah mencegah api berulang.

Di tengah kemarau ekstrem, keberhasilan penanganan karhutla akhirnya tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat api dipadamkan, tetapi juga seberapa dini kebakaran ditemukan, seberapa kuat pencegahan dilakukan dan seberapa baik seluruh kekuatan di lapangan bekerja sebagai satu kesatuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *