NUSAREPORT-Jambi, Tekanan harga di Provinsi Jambi kembali menguat pada Agustus 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi mencatat inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) mencapai 3,60 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,84. Angka ini meningkat cukup tajam dibandingkan inflasi tahunan pada Agustus 2025 yang tercatat 2,76 persen.
Kenaikan harga tidak hanya terjadi di tingkat provinsi. Dari tiga wilayah yang menjadi cakupan pengukuran IHK di Jambi, Muara Bungo mencatat inflasi tahunan paling tinggi, yakni 4,10 persen dengan IHK 114,33. Sementara inflasi terendah terjadi di Kota Jambi sebesar 3,53 persen dengan IHK 111,61. Kabupaten Kerinci berada di posisi berikutnya dengan inflasi y-on-y sebesar 3,58 persen.
Secara bulanan, harga-harga di Jambi juga masih bergerak naik. Inflasi month to month (m-to-m) Agustus 2026 tercatat 0,38 persen. Namun secara kumulatif sejak awal tahun, inflasi year to date (y-to-d) mencapai 2,12 persen. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, inflasi bulanan hanya 0,05 persen dan inflasi tahunan 2,76 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan inflasi pada Agustus 2026 relatif lebih kuat dibandingkan setahun sebelumnya. Kenaikan harga terutama bersumber dari kelompok kebutuhan yang bersentuhan langsung dengan konsumsi masyarakat.
Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi salah satu penyumbang terbesar. Kelompok ini mengalami inflasi tahunan 4,91 persen dan memberikan andil 1,57 persen terhadap inflasi Jambi. Kenaikan tersebut antara lain dipengaruhi oleh daging ayam ras yang memberikan andil 0,66 persen, jeruk 0,17 persen, minyak goreng 0,15 persen, ikan serai 0,13 persen, serta sejumlah komoditas pangan lainnya.
Tekanan harga juga datang dari sektor transportasi. Kelompok Transportasi mengalami inflasi tahunan sebesar 5,05 persen dengan andil 0,60 persen terhadap inflasi provinsi. Komoditas bensin menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,25 persen, disusul angkutan udara 0,12 persen, mobil 0,07 persen dan pelumas atau oli mesin 0,06 persen.
Menariknya, kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya justru mencatat laju inflasi tahunan tertinggi, yakni 7,07 persen. Kelompok ini memberikan andil 0,52 persen terhadap inflasi Jambi. Emas perhiasan menjadi komoditas yang paling dominan, dengan andil mencapai 0,51 persen.
Tekanan harga juga terlihat pada sektor penyediaan makanan dan minuman. Kelompok restoran mengalami inflasi 4,42 persen dan memberikan andil 0,41 persen. Nasi dengan lauk menjadi penyumbang terbesar sebesar 0,19 persen, disusul sate 0,07 persen dan ayam goreng 0,03 persen.
Sementara itu, kelompok kesehatan mengalami inflasi 4,02 persen. Kenaikan terutama terlihat pada jasa rawat inap yang mencapai 7,16 persen dan jasa rawat jalan sebesar 4,82 persen. Kelompok kesehatan memberikan andil 0,12 persen terhadap inflasi tahunan Jambi.
Pada sektor perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga, inflasi tahunan tercatat 2,94 persen dengan andil 0,39 persen. Komponen bahan bakar rumah tangga menjadi salah satu sumber tekanan harga dengan andil 0,17 persen, sementara sewa rumah memberikan andil 0,07 persen.
Di tengah berbagai kenaikan tersebut, tidak semua kelompok pengeluaran mengalami inflasi. Kelompok Pakaian dan Alas Kaki justru mengalami deflasi tahunan sebesar 4,25 persen dan memberikan andil deflasi 0,28 persen. Penurunan terutama terjadi pada subkelompok alas kaki sebesar 6,36 persen dan pakaian sebesar 3,76 persen.
Jika dilihat dari struktur inflasi secara keseluruhan, makanan menjadi sumber tekanan terbesar dengan andil 1,57 persen. Transportasi menyumbang 0,60 persen, perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,52 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,41 persen, serta perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,39 persen.
Khusus Muara Bungo, angka inflasi 4,10 persen menjadi perhatian karena berada di atas rata-rata inflasi Provinsi Jambi yang sebesar 3,60 persen. Pada Agustus 2026, Muara Bungo juga mencatat inflasi bulanan 0,30 persen dan inflasi sejak awal tahun 2,55 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi y-to-d Kota Jambi yang sebesar 1,86 persen dan Kabupaten Kerinci sebesar 2,79 persen.
Secara nasional maupun daerah, inflasi tidak hanya berbicara mengenai kenaikan harga, tetapi juga menyangkut daya beli masyarakat. Ketika harga pangan, transportasi, biaya kesehatan, jasa restoran dan kebutuhan personal bergerak naik secara bersamaan, tekanan terhadap pengeluaran rumah tangga menjadi semakin terasa.
Data Agustus menunjukkan bahwa tekanan inflasi Jambi bersifat cukup luas. Sepuluh dari sebelas kelompok pengeluaran mengalami inflasi tahunan, sementara hanya kelompok Pakaian dan Alas Kaki yang mengalami penurunan indeks. Kondisi ini membuat pengendalian harga kebutuhan pokok dan komoditas strategis tetap menjadi faktor penting untuk menjaga daya beli masyarakat.
Dengan inflasi tahunan 3,60 persen, perhatian terbesar kini tertuju pada bagaimana menjaga agar kenaikan harga tidak berlanjut menjadi tekanan yang lebih berat pada bulan-bulan berikutnya. Terlebih, Muara Bungo sebagai salah satu pusat aktivitas ekonomi Jambi mencatat inflasi tertinggi dibandingkan wilayah cakupan IHK lainnya.
BPS mencatat seluruh wilayah cakupan IHK di Provinsi Jambi mengalami inflasi bulanan pada Agustus 2026. Kabupaten Kerinci mengalami inflasi m-to-m 0,62 persen, Kota Jambi 0,31 persen dan Muara Bungo 0,30 persen.*Sumber : BPS Provinsi Jambi BRS Rilis 1 September 2026







