NUSAREPORT- Jambi, Jumat 1 Mei 2026,- Pemerintah Provinsi Jambi menunjukkan respons terbuka terhadap gelombang aspirasi buruh yang mengemuka dalam peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026. Aksi yang terpusat di Kantor Gubernur Jambi pada Jumat berlangsung tertib, namun menyimpan tekanan tuntutan yang tidak ringan bagi pemerintah daerah maupun pusat.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Jambi, Ismed Wijaya, menegaskan bahwa kehadiran pemerintah bukan sekadar simbolik. Ia memastikan seluruh aspirasi yang disuarakan akan dicatat dan ditindaklanjuti melalui forum resmi pemerintah.

“Kami hadir sebagai bentuk kepedulian. Seluruh aspirasi dipastikan tidak berhenti di sini dan akan dibahas dalam pertemuan lanjutan pada minggu pertama Mei 2026,” ujarnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa pemerintah daerah tidak bisa lagi menghindar dari kompleksitas persoalan ketenagakerjaan yang terus berulang setiap momentum May Day. Apresiasi terhadap aksi damai buruh dan mahasiswa memang disampaikan, namun substansi tuntutan menunjukkan adanya ketidakpuasan struktural yang belum terselesaikan.

Koordinator aksi, Sarwadi, menegaskan bahwa gerakan buruh tidak akan berhenti pada aksi seremonial tahunan. Ia menyebutkan bahwa sejumlah tuntutan yang disuarakan merupakan akumulasi persoalan lama yang belum mendapatkan jawaban konkret dari negara.

Di antara tuntutan utama, buruh mendesak percepatan pengesahan undang-undang ketenagakerjaan yang lebih berpihak, mendorong pengesahan RUU Perampasan Aset, serta ratifikasi Konvensi ILO 190 tentang penghapusan kekerasan di dunia kerja. Selain itu, isu klasik seperti penghapusan sistem alih daya dan penolakan terhadap upah murah kembali mengemuka sebagai kritik terhadap kebijakan ketenagakerjaan yang dinilai belum adil.

Tidak hanya itu, tekanan juga diarahkan pada sektor agraria. Massa aksi menuntut percepatan reformasi agraria serta penyelesaian konflik lahan di Jambi, termasuk desakan agar hasil sitaan Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH), khususnya kebun kelapa sawit, dapat didistribusikan kepada masyarakat miskin.

“Pemerintah masih menjadi tumpuan kami. Harapannya, momentum May Day ini benar-benar menghasilkan perubahan nyata,” kata Sarwadi.

Di sisi lain, aparat keamanan memastikan situasi tetap kondusif. Kabag Ops Polresta Jambi, Kompol Yumika Putra, menyebutkan bahwa terdapat empat titik aksi yang tersebar di Kota Jambi, yakni di Kantor Gubernur, Tugu Keris Siginjai, Hutan Kota, dan lapangan eks MTQ.

Sebanyak 450 personel gabungan diterjunkan untuk mengawal jalannya aksi, terdiri dari 250 anggota Polresta Jambi serta dukungan 200 personel Brimob dan Samapta Polda Jambi. Seluruh rangkaian aksi berlangsung aman dan terkendali.

Namun demikian, di balik situasi yang kondusif, terdapat pesan yang lebih dalam: stabilitas sosial tidak bisa hanya dijaga dengan pengamanan, tetapi harus dijawab dengan kebijakan yang menyentuh akar persoalan. Tuntutan buruh tahun ini memperlihatkan bahwa isu ketenagakerjaan, agraria, dan ketimpangan ekonomi masih menjadi pekerjaan rumah besar yang belum terselesaikan.

Pemerintah kini berada pada titik krusial, apakah aspirasi tersebut akan berujung pada kebijakan konkret, atau kembali menjadi catatan tahunan tanpa realisasi.

NUSAREPORT “Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *