
NUSAREPORT- Jakarta, Senin 15 Juni 2026,- Program Sekolah Rakyat yang dikembangkan pemerintah mulai menunjukkan hasil nyata. Tidak hanya membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, sejumlah Sekolah Rakyat kini berhasil meraih pengakuan nasional melalui berbagai inovasi di bidang literasi digital, kewirausahaan, ketahanan pangan, hingga pemberdayaan ekonomi peserta didik.
Tiga Sekolah Rakyat berhasil meraih penghargaan dalam ajang TOP 100 BUMD, Education, Leader, BPR Excellence Award 2026 yang digelar di Surabaya pada 12 Juni 2026. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi kepada institusi pendidikan dan para pemimpin yang dinilai memiliki kontribusi nyata dalam pembangunan serta peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Capaian tersebut menjadi indikator bahwa model pendidikan berbasis asrama yang diterapkan Sekolah Rakyat mulai menghasilkan dampak yang terukur. Tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, program ini juga mendorong penguatan karakter, keterampilan hidup, literasi, serta kemandirian ekonomi peserta didik.
Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 49 Sumenep meraih penghargaan Excellent Junior High School with Zero Waste Economic System and Food Security of The Year 2026. Penghargaan tersebut diberikan atas keberhasilan sekolah menerapkan sistem ekonomi berbasis zero waste yang terintegrasi dengan program ketahanan pangan secara inovatif dan berkelanjutan.
Sementara itu, Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 29 Pamekasan menerima penghargaan The Most Highly Recommended Junior High School with Excellent Literacy Digital Program of The Year 2026. Pengakuan tersebut diberikan atas keberhasilan sekolah membangun budaya literasi digital yang kreatif dan adaptif di tengah perkembangan teknologi.
Kepala SRMP 29 Pamekasan, Aisyah Minarni Mukti, menjelaskan budaya literasi di sekolahnya dikembangkan melalui Gerakan Literasi Membaca Menulis (Grasimanis) yang mendorong siswa membiasakan diri membaca dan menulis, termasuk melalui kegiatan bootcamp literasi digital.
“Meskipun sederhana, yang penting anak-anak mau membaca. Dari hasil bacaan itu mereka menuliskannya kembali dengan pendampingan guru Bahasa Indonesia dan tim pustakawan,” kata Aisyah.
Adapun Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 25 Lamongan meraih penghargaan The Most Inspiring School in Studentpreneurship and Sustainable Food Innovation of The Year 2026. Penghargaan tersebut menjadi bukti keberhasilan sekolah dalam menumbuhkan jiwa kewirausahaan sekaligus menghadirkan inovasi pangan berkelanjutan.
Kepala SRMA 25 Lamongan, Anis Al Aminatuf, mengatakan penghargaan tersebut menjadi motivasi bagi sekolah untuk terus menghadirkan ruang tumbuh bagi peserta didik.
“Ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus berinovasi dan memberikan ruang bagi peserta didik untuk berkembang,” ujar Anis dalam keterangan tertulis Kementerian Sosial, Senin (15/6/2026).
Menurut Anis, sekolah mengembangkan program Ketahanan Pangan dan Kewirausahaan Sremala (Kepak Sremala) yang melibatkan siswa secara langsung dalam proses produksi hingga pemasaran berbagai produk.
“Anak-anak tidak hanya belajar teori, tetapi juga terlibat dalam proses menanam, memproduksi hingga memasarkan produk dengan dampingan guru dan tenaga kependidikan. Mereka juga kami ajarkan menghitung HPP dan menentukan harga jual,” jelasnya.
Melalui program tersebut, siswa menghasilkan berbagai produk seperti sirup rosela, selai, minuman kesehatan, wingko, jepit jeber, hingga batik ciprat. Sejumlah produk bahkan telah memperoleh respons positif dari masyarakat.
“Alhamdulillah beberapa repeat order, berdasarkan testimoni pembeli produknya premium namun harga bersahabat. Untuk batik ciprat juga kami sudah mendapat order 69 lembar dan masih dalam proses penyelesaian,” tambah Anis.
Prestasi yang diraih ketiga Sekolah Rakyat tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan bagi kelompok masyarakat rentan tidak hanya mampu meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi juga dapat melahirkan inovasi dan produktivitas yang berdampak langsung bagi lingkungan sekitar.
Keberhasilan tersebut sejalan dengan komitmen pemerintah memperluas akses pendidikan melalui pembangunan Sekolah Rakyat di berbagai daerah. Salah satunya dilakukan di Lampung Timur yang saat ini tengah dipersiapkan menjadi pusat pendidikan terpadu bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono saat meninjau pembangunan gedung permanen Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 34 Lampung Timur di Kecamatan Sukadana menegaskan bahwa program Sekolah Rakyat dirancang sebagai instrumen untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi.
“Sekolah Rakyat ini dibangun untuk memutus kemiskinan antar generasi,” ujar Agus Jabo dalam keterangannya, Minggu (14/6/2026).
Menurutnya, pendidikan harus menjadi jalan utama bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk mengubah masa depan mereka.
“Anak-anak harus mendapatkan prioritas, agar tidak kembali terbebani pekerjaan di rumah. Pendidikan harus menjadi jalan untuk mengubah masa depan,” katanya.
Pernyataan tersebut tercermin dari pengalaman Devi (16), salah seorang siswa SRT 34 Lampung Timur yang sebelumnya sempat tertunda melanjutkan pendidikan karena keterbatasan ekonomi keluarganya.
“Saya sempat telat sekolah karena tidak punya biaya. Saya senang bisa sekolah di sini,” tutur Devi.
Selain pendidikan akademik, pemerintah juga menekankan pentingnya pembentukan karakter peserta didik melalui budaya gotong royong, toleransi, dan penghormatan terhadap sesama.
“Nilai gotong royong dan saling menghormati harus menjadi budaya utama di Sekolah Rakyat,” tegas Agus Jabo.
Sementara itu, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengingatkan para siswa agar memanfaatkan kesempatan belajar yang diberikan melalui Program Sekolah Rakyat dengan sebaik-baiknya.
“Nah anak-anakku sekalian, hari-hari ini kalian adalah orang-orang yang beruntung. Melalui program strategis Bapak Presiden, kalian mendapatkan kesempatan memperoleh pembelajaran dalam lingkungan yang berkualitas. Ini adalah kesempatan emas yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya,” kata Gus Ipul.
Menurutnya, hampir satu tahun perjalanan Sekolah Rakyat menjadi momentum penting bagi para siswa untuk terus memperbaiki diri, mengembangkan kemampuan, dan memperkuat karakter.
Berbagai penghargaan yang diraih tahun ini menunjukkan bahwa Sekolah Rakyat tidak hanya berfungsi sebagai sarana pemerataan akses pendidikan, tetapi juga mulai berkembang menjadi model pendidikan yang mendorong literasi, kewirausahaan, inovasi, serta pemberdayaan ekonomi. Di tengah upaya pemerintah menekan angka kemiskinan, capaian tersebut menjadi bukti bahwa investasi pada pendidikan dapat menjadi fondasi penting dalam menciptakan generasi yang lebih mandiri, produktif, dan berdaya saing di masa depan.
NUSAREPORT “Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta”