Setiap zaman memiliki caranya sendiri untuk mengingatkan manusia agar tidak kehilangan arah. Ada kalanya pengingat itu datang melalui peristiwa besar, ada kalanya melalui pengalaman hidup yang mengguncang kesadaran. Namun tidak jarang, pengingat itu hadir melalui tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Memasuki 1 Suro Tahun Dal 1960 Jawa yang jatuh pada 16 Juni 2026, ada ruang yang mengajak kita untuk berhenti sejenak. Di tengah kehidupan yang bergerak semakin cepat, momentum ini mengingatkan bahwa manusia sesekali perlu bercermin, menilai kembali perjalanan yang telah dilalui, dan bertanya dengan jujur kepada dirinya sendiri: apakah selama ini kita telah menjadi manusia yang lebih baik?

Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Namun justru dalam kesederhanaannya tersimpan makna yang mendalam.

Hari-hari kita sering dipenuhi berbagai kesibukan. Kita bekerja, mengejar target, memenuhi tanggung jawab, membangun harapan, dan merancang masa depan. Tanpa disadari, kehidupan bergerak begitu cepat hingga terkadang kita lupa menyediakan waktu untuk menilai kembali langkah yang telah ditempuh.

Padahal hidup tidak hanya tentang bergerak ke depan. Ada saatnya manusia perlu berhenti sejenak untuk melihat ke belakang, bukan untuk terjebak dalam masa lalu, melainkan untuk memahami apa yang perlu diperbaiki sebelum melanjutkan perjalanan.

Di situlah makna 1 Suro menemukan relevansinya.

Meski berakar dari tradisi Jawa, nilai yang terkandung dalam 1 Suro sesungguhnya melampaui batas suku, daerah, dan golongan. Ia berbicara tentang kesadaran diri, pengendalian diri, penghormatan kepada sesama, dan upaya menjaga keseimbangan hidup. Nilai-nilai yang hidup dalam berbagai kebudayaan Nusantara dan menjadi bagian dari jati diri bangsa Indonesia.

Tahun 2025 hingga memasuki 2026 telah memberikan banyak pelajaran kepada kita. Dunia berubah dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Teknologi berkembang pesat. Kecerdasan buatan mulai mengubah cara manusia bekerja dan berinteraksi. Informasi bergerak tanpa henti, memenuhi ruang-ruang kehidupan kita setiap hari.

Namun di tengah kemajuan tersebut, ada pertanyaan yang layak direnungkan: apakah kebijaksanaan kita bertumbuh secepat teknologi yang kita gunakan?

Hari ini kita hidup di tengah ruang publik yang semakin ramai. Semua orang dapat berbicara. Semua orang dapat berpendapat. Semua orang dapat menjadi pusat perhatian dalam hitungan detik.

Sayangnya, kemampuan berbicara tidak selalu diikuti oleh kemampuan mendengar.

Media sosial yang semestinya menjadi ruang bertukar gagasan sering berubah menjadi arena pertengkaran. Perbedaan pandangan yang dahulu dapat dibicarakan dengan kepala dingin kini tidak jarang berakhir dengan saling merendahkan. Kritik yang seharusnya memperkuat kehidupan demokrasi berubah menjadi penghinaan. Kebebasan berbicara terkadang kehilangan pasangan utamanya, yaitu tanggung jawab.

Kita hidup dalam zaman ketika orang semakin cepat berkomentar, tetapi semakin jarang merenung.

Fenomena tersebut tidak hanya terlihat di ruang digital. Ia juga mulai terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Kita menyaksikan bagaimana kesantunan perlahan terkikis oleh budaya serba instan. Tata krama yang dahulu menjadi bagian dari pendidikan keluarga mulai dianggap tidak penting. Percakapan yang seharusnya membangun pemahaman sering berubah menjadi perlombaan untuk saling memenangkan pendapat.

Dalam budaya Jawa dikenal istilah unggah-ungguh, yang dapat dimaknai sebagai tata krama, kesantunan, etika, dan kemampuan menempatkan diri secara tepat dalam kehidupan sosial. Nilai yang sama hidup dalam berbagai tradisi Nusantara. Ia mengajarkan bahwa kecerdasan akan kehilangan maknanya apabila tidak dibarengi dengan adab.

Karena itulah para leluhur tidak hanya mewariskan pengetahuan, tetapi juga kebijaksanaan.

Hubungan antara generasi muda dan generasi tua menjadi salah satu contoh yang penting untuk direnungkan. Tidak sedikit anak muda yang tumbuh dengan wawasan luas dan penguasaan teknologi yang mengagumkan, tetapi kurang mendapatkan ruang untuk belajar tentang penghormatan, kesabaran, dan kebijaksanaan hidup. Di sisi lain, tidak sedikit pula generasi yang lebih tua yang menuntut penghormatan tanpa menghadirkan keteladanan.

Padahal kehidupan yang sehat selalu dibangun oleh keseimbangan.

Yang muda memiliki kewajiban menghormati mereka yang lebih dahulu berjalan karena pengalaman hidup adalah guru yang tidak tergantikan. Namun yang tua juga memiliki tanggung jawab untuk menjadi teladan yang baik, sebab penghormatan sejati tidak lahir karena usia semata, melainkan karena integritas dan kebijaksanaan yang terpancar dalam sikap serta perilaku.

Kearifan Jawa menyimpan banyak pelajaran yang tetap relevan hingga hari ini.

Salah satunya adalah mikul dhuwur mendhem jero. Secara harfiah berarti mengangkat tinggi dan mengubur dalam-dalam. Maknanya adalah menghormati jasa dan kebaikan para pendahulu, sekaligus tidak mengumbar kekurangan mereka. Falsafah ini mengajarkan bahwa membangun masa depan tidak harus dilakukan dengan merendahkan masa lalu.

Ada pula ungkapan ajining diri ana ing lathi, ajining raga ana ing busana. Martabat seseorang pertama-tama tercermin dari tutur katanya. Pesan ini terasa semakin penting pada masa ketika banyak orang ingin dihormati, tetapi lupa menjaga kata-kata yang keluar dari mulut maupun yang dituliskan di ruang digital.

Leluhur Nusantara memahami sesuatu yang sering terlupakan pada masa kini: kata-kata dapat menjadi jembatan persaudaraan, tetapi juga dapat menjadi sumber perpecahan.

Kearifan yang tidak kalah penting adalah sepi ing pamrih, rame ing gawe. Sebuah ajaran yang mengingatkan bahwa manusia seharusnya tidak sibuk mengejar kepentingan pribadi semata, melainkan lebih banyak berkarya dan bekerja untuk kemaslahatan bersama.

Nilai ini terasa semakin relevan ketika ruang publik sering dipenuhi keinginan untuk tampil, diakui, dan dipuji. Banyak orang ingin terlihat berjasa, tetapi tidak semua bersedia bekerja dalam diam. Padahal sejarah bangsa ini dibangun oleh mereka yang lebih banyak berkarya daripada berbicara.

Leluhur juga mewariskan falsafah wani ngalah luhur wekasane, berani mengalah akan memperoleh kemuliaan pada akhirnya. Ini bukan ajaran tentang kelemahan, melainkan tentang kemampuan mengendalikan ego. Sebab tidak semua perdebatan harus dimenangkan, dan tidak semua perbedaan harus berakhir dengan permusuhan.

Dalam kehidupan yang semakin bising, kemampuan mengendalikan diri justru menjadi bentuk kekuatan yang sesungguhnya.

Mungkin karena itulah makna 1 Suro tetap hidup hingga sekarang.

Ia bukan sekadar pergantian tahun dalam penanggalan Jawa. Ia adalah pengingat bahwa kemajuan tidak boleh membuat manusia kehilangan kebijaksanaan. Bahwa teknologi tidak boleh membuat manusia kehilangan adab. Bahwa kebebasan tidak boleh membuat manusia kehilangan tanggung jawab.

Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Kita memiliki banyak sarjana, profesional, akademisi, teknokrat, pemimpin, dan generasi muda yang penuh potensi.

Namun bangsa ini akan menghadapi persoalan yang lebih besar apabila kehilangan sesuatu yang lebih mendasar: keteladanan, kesantunan, rasa hormat, empati, dan kesediaan untuk mendengar satu sama lain.

Sebab pada akhirnya, kemajuan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari tingginya gedung, panjangnya jalan, atau canggihnya teknologi. Kemajuan sebuah bangsa juga diukur dari kualitas karakter manusianya.

Memasuki 1 Suro 1960 Jawa, mungkin inilah saat yang tepat bagi kita untuk menurunkan sedikit volume suara kehidupan yang terlalu gaduh. Menenangkan pikiran yang terlalu sibuk. Membuka hati yang mulai sempit oleh prasangka.

Lalu bertanya kepada diri sendiri dengan jujur…

Apakah selama setahun terakhir kita telah menjadi manusia yang lebih baik ?

Apakah kita masih menghormati mereka yang lebih tua tanpa kehilangan daya kritis ?

Apakah kita telah menjadi teladan bagi generasi muda ?

Apakah kita masih menjaga adab ketika berbeda pendapat ?

Apakah kita masih mampu mendengar sebelum berbicara ?

Sebab sebagaimana diajarkan oleh berbagai kearifan Nusantara, perubahan besar selalu dimulai dari perubahan yang paling dekat: perubahan pada diri sendiri.

Dan barangkali, di tengah hiruk-pikuk zaman yang semakin gaduh ini, itulah makna terdalam dari 1 Suro yang patut kita renungkan bersama. * Budi Prasetiyo.

NUSAREPORT “Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *