
NUSAREPORT- Pos Medan, Sabtu 4 Juli 2026,- Di tengah hampir rampungnya pembangunan Sekolah Rakyat Terintegrasi II Kota Medan, sebuah kisah sederhana dari pesisir Bagan Deli memberi makna yang lebih dalam terhadap program pendidikan yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Bagi Muhammad Risky Pratama, bocah berusia 12 tahun yang sehari-hari berjualan ikan keliling, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar, melainkan jalan baru untuk mengubah nasib.
Pesan itulah yang mengemuka ketika Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pada Jumat 3/7/2026. meninjau langsung progres pembangunan Sekolah Rakyat Terintegrasi II Kota Medan. Di atas lahan sekitar enam hektare milik Pemerintah Kota Medan, pemerintah tengah menyelesaikan kawasan pendidikan terpadu yang dirancang mampu menampung lebih dari 1.000 peserta didik dari keluarga kurang mampu.
Fasilitas yang disiapkan tidak hanya ruang kelas, tetapi juga laboratorium, asrama, aula serbaguna, tempat ibadah, hingga sarana olahraga. Seluruhnya dirancang untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mampu mengembangkan potensi peserta didik secara menyeluruh.
Menurut AHY, yang sedang dibangun pemerintah bukan hanya infrastruktur pendidikan, melainkan masa depan anak-anak Indonesia yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap pendidikan berkualitas.
“Yang kita bangun adalah masa depan. Kita ingin memastikan anak-anak dari keluarga yang membutuhkan perhatian dan bantuan secara ekonomi tetap memiliki kesempatan yang sama untuk meraih cita-cita mereka,” ujar AHY.
Ia menegaskan, seluruh proses pendidikan di Sekolah Rakyat diberikan secara gratis mulai dari peserta didik diterima hingga menyelesaikan pendidikan. Program tersebut menjadi salah satu prioritas Presiden Prabowo Subianto dalam upaya memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui pendidikan yang berkualitas.
“Cara paling mulia dan paling berkelanjutan untuk mengubah nasib keluarga adalah melalui pendidikan,” katanya.
Makna dari pernyataan itu tergambar jelas dalam kehidupan Muhammad Risky Pratama.
Dalam siaran pers Kementerian Sosial yang dirilis bertepatan dengan peninjauan tersebut, Risky diceritakan sebagai anak yang sejak usia belia telah memikul tanggung jawab besar untuk membantu keluarganya bertahan hidup. Hampir setiap hari ia mengayuh sepeda puluhan kilometer menjajakan ikan segar hasil tangkapan nelayan di kampungnya.
Penghasilan yang dibawanya pulang tidak menentu. Pada hari biasa ia memperoleh sekitar Rp30 ribu, sedangkan jika seluruh ikan habis terjual ia bisa mendapatkan hingga Rp90 ribu.
“Kadang sehari dapat Rp30 ribu, paling banyak dikasih Rp90 ribu kalau habis semua ikannya,” tutur Risky.
Seluruh uang hasil berjualan diserahkan kepada neneknya untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Hasil jualan dibagi nenek. Habis itu nenek beli beras dan pampers adik,” katanya.
Risky merupakan anak sulung dari empat bersaudara. Ia memilih membantu keluarga sejak masih duduk di bangku kelas VI sekolah dasar karena tak tega melihat kakeknya, Salamuddin, yang bekerja mencari kerang harus menghidupi 13 anggota keluarga dengan penghasilan sekitar Rp30 ribu hingga Rp50 ribu per hari.
Sejak ibunya merantau ke luar daerah untuk bekerja dan ayahnya membangun kehidupan bersama keluarga lain, Risky tinggal bersama kakek dan neneknya di Bagan Deli. Kondisi ekonomi yang serba terbatas sempat membuat keluarganya khawatir ia tidak mampu melanjutkan pendidikan.
Harapan itu berubah ketika Risky diterima sebagai siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 2 Medan.
Di lingkungan asrama, ia tidak hanya memperoleh pendidikan formal, tetapi juga pembinaan karakter, kedisiplinan, dan pendidikan keagamaan. Perubahan itu ia rasakan sendiri.
“Dulu saya enggak pandai baca, sekarang jadi pandai karena diajari guru dan wali asrama. Dulu enggak pandai niat salat dan wudu, sekarang sudah bisa semua,” ujarnya.
Perubahan tersebut juga dirasakan sang nenek, Masitah. Perempuan yang selama ini membesarkan Risky mengaku tidak pernah menyangka cucunya akhirnya memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan tanpa harus dibebani persoalan biaya.
“Dulu saya menangis karena tak akan mampu menyekolahkan dia. Cita-citanya tinggi, tapi uang tak ada. Sekarang saya menangis lagi, tapi menangis bahagia,” katanya.
Menurut Masitah, cucunya kini tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri, percaya diri, dan semakin rajin beribadah.
“Kalau pulang ke rumah, sekarang keluyurannya bukan main-main lagi, tapi jalannya ke musala atau masjid,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Salamuddin. Meski bangga melihat semangat cucunya membantu keluarga sejak kecil, ia selalu menanamkan bahwa pendidikan merupakan bekal utama untuk mengubah kehidupan.
“Kami semangatkan dia untuk sekolah di sini supaya dia terdidik dan menjadi orang sukses nanti,” katanya.
Di balik semangat menjalani kehidupan baru, Risky masih menyimpan kerinduan kepada ibunya yang terakhir ditemuinya ketika masih duduk di bangku kelas IV sekolah dasar.
Namun, kerinduan itu tidak mengurangi tekadnya untuk terus belajar. Bocah yang kini bercita-cita menjadi prajurit TNI tersebut justru menyampaikan pesan yang menguatkan ibunya.
Kisah Muhammad Risky Pratama menjadi potret bagaimana sebuah kebijakan publik menemukan maknanya ketika benar-benar menyentuh kehidupan masyarakat. Sekolah Rakyat bukan hanya menghadirkan ruang belajar dan bangunan baru, tetapi membuka kesempatan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk kembali menyusun cita-cita yang sebelumnya nyaris terhenti oleh himpitan ekonomi.
Bagi Risky, masa depan yang dulu terasa begitu jauh kini perlahan mulai terlihat. Sepeda yang selama ini ia kayuh untuk menjual ikan bukan lagi menjadi simbol beratnya kehidupan, melainkan pengingat bahwa setiap langkah kecil dapat mengantarkan seseorang menuju mimpi yang lebih besar ketika negara hadir memberikan kesempatan yang sama melalui pendidikan.
NUSAREPORT “Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta“