NUSAREPORT- Menjelang Musyawarah Nasional (Munas) XI Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI-Polri (FKPPI), pembicaraan mengenai figur yang akan memimpin organisasi mulai menghangat. Salah satu nama yang menarik untuk diperhitungkan adalah Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto. Munas XI yang dijadwalkan berlangsung pada 4–6 Desember 2026 di Sumatera Utara akan menentukan siapa yang mendapat mandat memimpin FKPPI untuk periode berikutnya. Karena itu, pembicaraan mengenai calon Ketua Umum tidak cukup dilihat dari siapa yang paling populer, tetapi dari siapa yang memiliki pengalaman, kapasitas dan jejaring yang relevan dengan kebutuhan organisasi.
Dalam konteks tersebut, Titiek Soeharto memiliki alasan yang cukup kuat untuk berada dalam bursa. Ia bukan figur yang datang dari luar FKPPI. Titiek memiliki hubungan historis dengan organisasi dan pernah berada dalam jajaran kepengurusan FKPPI. Faktor ini penting karena memimpin organisasi dengan sejarah dan karakter khusus seperti FKPPI membutuhkan pemahaman terhadap akar organisasi, bukan sekadar kemampuan mengelola struktur.
Pengalaman Titiek juga tidak berhenti di FKPPI. Ia pernah memimpin Persatuan Panahan Indonesia (Perpani), memiliki pengalaman panjang dalam organisasi, kemudian menjalani karier politik nasional dan kini menjadi anggota DPR RI sekaligus Ketua Komisi IV DPR RI. Kombinasi pengalaman tersebut merupakan salah satu keunggulannya. Ia memiliki pengalaman organisasi, pernah berada dalam posisi kepemimpinan, sekaligus memahami proses pengambilan kebijakan di tingkat nasional. Bagi FKPPI, pengalaman dan jejaring seperti ini dapat menjadi modal untuk membangun komunikasi yang lebih luas dengan pemerintah, parlemen, dunia usaha maupun berbagai kelompok masyarakat.
Melihat kebutuhan lain yang tidak kalah penting, yakni kemampuan mempertemukan pengalaman generasi lama dengan energi generasi baru. FKPPI memiliki sejarah panjang dan jaringan organisasi yang luas, tetapi kekuatan tersebut harus terus diperbarui melalui kaderisasi. Pengurus Daerah (PD), Pengurus Cabang (PC) dan Pengurus Rayon (PR) harus benar-benar menjadi bagian yang hidup dari organisasi, bukan hanya tercantum dalam struktur. Kader muda juga perlu memperoleh ruang yang lebih nyata untuk berkembang, berorganisasi dan mengambil bagian dalam program yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Dalam hal ini, pengalaman Titiek dapat menjadi salah satu modal. Namun, jika ia benar-benar masuk dalam kontestasi dan kemudian memperoleh kepercayaan sebagai Ketua Umum, tantangan sebenarnya justru dimulai setelah Munas. Ia harus membuktikan bahwa pengalaman dan jejaring yang dimilikinya mampu diterjemahkan menjadi kerja organisasi yang konkret. FKPPI harus semakin solid dari pusat sampai daerah, kaderisasi harus berjalan dan keberadaan organisasi harus dirasakan oleh kader maupun masyarakat.
Posisi Titiek sebagai politisi juga tidak bisa dilepaskan dari pembicaraan mengenai kepemimpinannya. Pengalaman politik tersebut dapat menjadi kekuatan sepanjang ditempatkan secara proporsional. FKPPI tetap harus menjadi rumah bersama dan tidak berubah menjadi kendaraan politik praktis. Kader memiliki hak menentukan pilihan politik masing-masing, tetapi organisasi harus mampu menjaga ruang kebersamaan dan kepentingan FKPPI secara keseluruhan.
Karena itu, Titiek Soeharto sangat wajar jika masuk dalam bursa Ketua Umum FKPPI. Bukan semata-mata karena nama besar keluarganya dan bukan pula hanya karena posisinya sebagai anggota DPR RI, tetapi karena ia memiliki kombinasi rekam jejak yang cukup lengkap: hubungan historis dengan FKPPI, pengalaman organisasi, pengalaman kepemimpinan, pengalaman di parlemen dan jejaring nasional. Kombinasi tersebut membuat dirinya memiliki modal yang layak diperhitungkan dalam proses menuju Munas XI.
Tentu, modal tersebut bukan jaminan bahwa Titiek akan terpilih. Ketua Umum FKPPI tetap ditentukan melalui mekanisme organisasi dalam Munas XI dan peserta Munaslah yang pada akhirnya memberikan mandat. Munas merupakan forum untuk menentukan figur yang dianggap mampu membawa organisasi ke depan, nama Titiek layak ditempatkan dalam percakapan tersebut.
Yang kemudian harus diuji adalah gagasan dan kemampuannya menjawab kebutuhan organisasi. Bagaimana memperkuat Pengurus Daerah, Pengurus Cabang dan Pengurus Rayon, Bagaimana kaderisasi dibangun secara berkelanjutan, Bagaimana generasi muda memperoleh ruang yang lebih besar, Bagaimana jejaring nasional yang dimiliki dapat menghasilkan manfaat konkret bagi organisasi dan kader,.
Jika Titiek mampu menjawab persoalan tersebut dengan gagasan dan program yang jelas, maka peluang kepemimpinannya memiliki dasar yang lebih kuat daripada sekadar popularitas. Sebab, Ketua Umum bukan hanya figur yang dipilih untuk memimpin forum organisasi, tetapi orang yang akan menentukan bagaimana kekuatan jaringan FKPPI diterjemahkan menjadi kerja nyata selama masa kepemimpinannya.
Munas XI pada akhirnya bukan hanya tentang memilih seorang Ketua Umum. Munas adalah kesempatan bagi FKPPI untuk menentukan figur yang dianggap paling mampu menjaga karakter organisasi sekaligus membawa pembaruan yang dibutuhkan. Dalam konteks itu, Titiek Soeharto bukan nama yang muncul tanpa alasan. Ia memiliki sejarah dengan FKPPI, pengalaman organisasi, pengalaman kepemimpinan dan jejaring nasional yang membuatnya sangat wajar diperhitungkan dalam bursa Ketua Umum FKPPI.
Keputusan akhirnya tentu berada di tangan Munas. Tetapi sebelum Desember tiba, setiap figur layak dinilai berdasarkan rekam jejak, kapasitas dan gagasan yang ditawarkan. Untuk Titiek Soeharto, modal itu sudah tersedia. Tantangannya adalah membuktikan bahwa modal tersebut dapat diterjemahkan menjadi kepemimpinan yang mampu menyatukan, menguatkan dan menggerakkan FKPPI setelah mandat diberikan.*Budi Prasetiyo FKPPI-NA.0505030001













