
Pendidikan seharusnya menjadi jalan untuk memanusiakan manusia. Namun yang sering tampak hari ini justru sebaliknya. Pendidikan lebih sibuk mencetak manusia yang patuh, terampil, dan siap masuk ke pasar kerja daripada membentuk pribadi yang merdeka dalam berpikir, teguh dalam kemauan, dan halus dalam perasaan. Kelas-kelas berubah menjadi ruang produksi nilai, sementara sekolah dan kampus makin kerap diukur dari kelulusan, sertifikasi, dan daya saing, bukan dari kemampuannya melahirkan manusia yang matang secara intelektual dan moral.
Di tengah situasi seperti ini, kegelisahan lama terasa kembali relevan. Tan Malaka pernah menegaskan bahwa tujuan pendidikan adalah mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, dan memperhalus perasaan. Tiga hal ini sesungguhnya merupakan inti dari pendidikan yang berjiwa. Pendidikan tidak cukup hanya membuat seseorang pandai menjawab soal atau menguasai keterampilan teknis. Pendidikan harus menolong manusia berpikir jernih, memiliki kehendak yang kuat, dan tetap memelihara kepekaan nurani. Tanpa itu, pendidikan hanya akan melahirkan manusia yang cakap, tetapi rapuh; cerdas, tetapi miskin empati.
Sayangnya, pendidikan kita hari ini justru cenderung menyempitkan arti kecerdasan. Kecerdasan dihargai sejauh bisa diuji, diberi angka, lalu ditukar menjadi prestasi atau keuntungan ekonomi. Anak-anak dibiasakan mengejar jawaban yang benar, tetapi tidak selalu dibimbing untuk mengajukan pertanyaan yang benar. Mereka didorong untuk berhasil dalam sistem, tetapi tidak cukup dilatih untuk memahami kenyataan di luar buku dan ruang kelas. Akibatnya, kita mungkin menghasilkan banyak lulusan yang pandai mengerjakan soal, tetapi belum tentu berani berpikir berbeda atau cukup tangguh menghadapi persoalan hidup yang nyata.
Di sinilah pemikiran Ki Hadjar Dewantara menjadi penting. Ia memandang pendidikan sebagai proses menuntun tumbuhnya kodrat anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya sebagai manusia dan anggota masyarakat. Kata “menuntun” mengandung makna yang mendalam. Pendidikan bukanlah proses menyeragamkan, apalagi menundukkan. Pendidikan semestinya menghormati keunikan tiap manusia, membimbing pertumbuhannya, dan menolongnya menjadi pribadi yang merdeka. Ketika pendidikan justru menekan, menakut-nakuti, dan memaksa semua orang tunduk pada ukuran yang sama, saat itulah ia menjauh dari makna dasarnya.
Pandangan Paulo Freire memperkuat kritik ini. Ia menolak pendidikan yang memperlakukan murid sebagai wadah kosong yang hanya menunggu untuk diisi. Dalam model seperti itu, guru dianggap sebagai pemilik pengetahuan, sedangkan murid sekadar penerima. Pengetahuan berubah menjadi hafalan, bukan kesadaran. Pendidikan semacam ini mungkin melahirkan kepatuhan, tetapi sulit menumbuhkan keberanian berpikir. Ia membentuk manusia yang terbiasa menyesuaikan diri, bukan manusia yang sanggup membaca dunia secara kritis dan mengambil sikap secara sadar.
Bila gagasan Tan Malaka, Ki Hadjar Dewantara, dan Paulo Freire dibaca bersama, terlihat jelas bahwa pendidikan sejatinya bukan sekadar transfer ilmu atau persiapan kerja. Pendidikan adalah proses pembentukan manusia seutuhnya. Ia harus menajamkan akal, menguatkan kehendak, dan melembutkan hati. Ia harus menuntun, bukan menekan. Ia harus membangkitkan kesadaran, bukan membiasakan kepasifan.
Tentu pendidikan tidak bisa sepenuhnya dilepaskan dari kebutuhan ekonomi. Sekolah memang perlu menyiapkan keterampilan agar seseorang dapat hidup layak. Namun ketika seluruh orientasi pendidikan tunduk pada logika pasar, manusia pun mudah direduksi menjadi sekadar sumber daya. Pengetahuan dihargai hanya sejauh berguna secara ekonomis. Dalam keadaan seperti itu, sekolah berubah menjadi pabrik tenaga kerja, bukan ruang pembentukan manusia. Kita mungkin memiliki banyak lulusan, tetapi belum tentu melahirkan banyak pribadi yang merdeka, berani, dan berkepekaan sosial.
Karena itu, pembaruan pendidikan tidak cukup berhenti pada pergantian kurikulum, digitalisasi pembelajaran, atau pembangunan fasilitas. Semua itu penting, tetapi tidak menyentuh inti persoalan bila orientasinya tetap keliru. Yang lebih mendesak adalah mengembalikan jiwa pendidikan itu sendiri. Kelas harus kembali menjadi ruang dialog, bukan sekadar ruang evaluasi. Guru harus dipulihkan sebagai pendidik, bukan hanya pelaksana target administratif. Murid harus dipandang sebagai manusia yang sedang bertumbuh, bukan angka statistik yang harus memenuhi standar.
Pada akhirnya, ukuran terpenting pendidikan bukanlah berapa banyak orang lulus, melainkan manusia seperti apa yang lahir darinya. Jika pendidikan gagal membentuk pribadi yang cerdas, teguh, dan peka, maka yang tersisa hanyalah industri pengetahuan tanpa jiwa. Pendidikan hanya akan menemukan maknanya kembali bila ia sanggup memerdekakan manusia: membebaskannya untuk berpikir jernih, berani bersikap, dan tetap setia pada nurani