MUARA BUNGO – NUSAREPORT, Minggu 7 Juni 2026 — Harga sejumlah kebutuhan pokok di Pasar Bungur Muara Bungo pada pekan pertama Juni 2026 masih menunjukkan tekanan pada beberapa komoditas pangan strategis, terutama cabai dan bawang merah. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena terjadi di tengah inflasi tahunan (year-on-year) Muara Bungo yang masih berada pada level 4,49 persen pada Mei 2026, lebih tinggi dibanding sasaran inflasi nasional.

Berdasarkan pantauan langsung NUSAREPORT pada Minggu (7/6/2026), harga beras premium masih bertahan pada level tinggi. Beras Cap Belido dijual Rp162.000/10 kg, sementara Beras Cap Dua Lele juga berada pada harga Rp162.000/10 kg. Adapun Beras SPHP Bulog dijual Rp120.000/10 kg dan masih menjadi pilihan masyarakat untuk memperoleh beras dengan harga lebih terjangkau.

Untuk kebutuhan pokok lainnya, gula pasir kemasan dijual Rp19.000/kg dan gula pasir curah Rp18.000/kg. Minyak goreng kemasan berada pada harga Rp22.000/liter, sedangkan minyak goreng curah Rp18.000/liter. Tepung terigu dijual Rp13.000/kg dan garam halus Rp12.000/kg.

Meski harga minyak goreng relatif stabil, hasil survei pada sejumlah toko sampel menunjukkan persediaan Minyakita mulai terbatas, cenderung menghilang , Beberapa pedagang mengaku pasokan yang masuk tidak sebanyak bulan-bulan sebelumnya.

Tekanan harga paling menonjol masih terjadi pada kelompok bumbu dapur. Cabe merah besar dijual Rp60.000/kg, cabe hijau besar Rp40.000/kg dan cabe rawit mencapai Rp80.000/kg. Sementara itu bawang merah dijual Rp48.000/kg dan bawang putih Rp40.000/kg.

Dibandingkan laporan harga Pasar Bungur pada awal Mei 2026, kenaikan harga sejumlah komoditas tersebut cukup terasa. Cabe merah besar yang sebelumnya berada pada kisaran Rp44.000/kg kini mencapai Rp60.000/kg. Cabe rawit meningkat dari sekitar Rp70.000/kg menjadi Rp80.000/kg, sedangkan bawang merah naik dari Rp42.000/kg menjadi Rp48.000/kg. Sebaliknya, harga gula, minyak goreng, tepung terigu dan garam relatif stabil.

Kenaikan harga cabai dan bawang tersebut sejalan dengan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bungo. Dalam Berita Resmi Statistik Mei 2026, BPS mencatat inflasi tahunan Muara Bungo mencapai 4,49 persen dengan tingkat inflasi bulanan sebesar 0,53 persen. Kelompok makanan, minuman dan tembakau bahkan mengalami inflasi sebesar 6,14 persen, lebih tinggi dibanding inflasi umum.

BPS juga mencatat bahwa cabai merah, minyak goreng, bawang merah, ikan nila, daging ayam ras, cabai rawit, ikan tongkol dan tomat merupakan komoditas yang dominan memberikan andil terhadap inflasi daerah. Bahkan pada inflasi bulanan Mei 2026, cabai merah dan bawang merah menjadi penyumbang utama kenaikan harga konsumen di Muara Bungo.

Kondisi tersebut tercermin langsung di Pasar Bungur. Pada kelompok perikanan, ikan kembung dijual Rp60.000/kg, tuna Rp70.000/kg dan udang Rp110.000/kg. Sementara ikan air tawar yang menjadi konsumsi utama masyarakat masih berada pada kisaran yang relatif stabil, yakni ikan nila Rp40.000/kg, lele Rp35.000/kg dan patin Rp32.000/kg.

Untuk sumber protein hewani lainnya, ayam potong ukuran sedang dijual Rp35.000/kg, sedangkan telur ayam ras berada pada harga Rp23.000/10 butir. Kelapa yang banyak digunakan untuk kebutuhan rumah tangga maupun usaha kuliner dijual Rp10.000/butir.

Dari perspektif ekonomi daerah, perkembangan harga pangan ini penting untuk dicermati karena konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama aktivitas ekonomi masyarakat. Ketika harga pangan meningkat, daya beli masyarakat berpotensi tertekan sehingga dapat mempengaruhi perputaran ekonomi lokal. Tingginya inflasi kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 6,14 persen menunjukkan bahwa sektor pangan masih menjadi faktor dominan pembentuk inflasi di Muara Bungo.

Data BPS juga memperlihatkan bahwa inflasi Muara Bungo sempat mencapai 6,46 persen pada Februari 2026 sebelum turun menjadi 4,44 persen pada Maret, 3,14 persen pada April, dan kembali naik menjadi 4,49 persen pada Mei 2026. Tren tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga pangan masih belum sepenuhnya mereda dan memerlukan perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan.

Memasuki minggu kedua hingga akhir Juni 2026, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Bungo diharapkan memperkuat pemantauan harga harian, memastikan kelancaran distribusi bahan pokok, menjaga ketersediaan pasokan melalui koordinasi dengan Bulog dan distributor, serta mengantisipasi potensi gangguan pasokan pada komoditas penyumbang inflasi utama seperti cabai merah, cabai rawit, bawang merah, minyak goreng dan ikan konsumsi.

Langkah pengendalian menjadi semakin penting mengingat komoditas-komoditas tersebut merupakan penyumbang utama inflasi daerah . Apabila pasokan tetap terjaga dan distribusi berjalan lancar, tekanan inflasi pada semester pertama 2026 berpeluang dikendalikan sehingga daya beli masyarakat Kabupaten Bungo tetap terjaga dan aktivitas ekonomi lokal dapat terus bergerak positif.

NUSAREPORT “Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *