JAMBI, NUSAREPORT, 2 Juni 2026,- Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi mencatat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) sebesar 3,56 persen pada Mei 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar 0,96 persen, menunjukkan tekanan harga yang masih berlangsung di sejumlah kelompok pengeluaran masyarakat.
Dari tiga daerah yang menjadi cakupan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Provinsi Jambi, Muara Bungo mencatat inflasi tertinggi sebesar 4,49 persen dengan IHK 113,78. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Kerinci dengan inflasi 4,27 persen, sedangkan Kota Jambi menjadi wilayah dengan inflasi terendah sebesar 3,23 persen.
Secara bulanan (month-to-month/m-to-m), Provinsi Jambi mengalami inflasi sebesar 0,75 persen, sementara inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) mencapai 1,27 persen. Kenaikan harga tersebut mendorong Indeks Harga Konsumen Provinsi Jambi naik dari 108,05 pada Mei 2025 menjadi 111,90 pada Mei 2026.

Tekanan inflasi terutama berasal dari kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau yang mengalami kenaikan sebesar 6,04 persen dan menjadi penyumbang terbesar inflasi dengan andil 1,91 persen. Selain itu, kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya mencatat kenaikan tertinggi sebesar 7,20 persen, disusul kelompok Transportasi sebesar 3,63 persen, Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran 3,58 persen, serta Perumahan, Air, Listrik dan Bahan Bakar Rumah Tangga sebesar 2,85 persen.
BPS mencatat sejumlah komoditas yang paling dominan mendorong inflasi tahunan di Jambi. Di antaranya emas perhiasan, daging ayam ras, angkutan udara, cabai merah, bahan bakar rumah tangga, nasi dengan lauk, ikan serai, rokok kretek mesin, jeruk, minyak goreng, petai, telur ayam ras, cabai rawit hingga biaya pendidikan.

Khusus pada kelompok makanan, lonjakan harga daging ayam ras memberikan andil inflasi terbesar sebesar 0,37 persen, diikuti cabai merah sebesar 0,21 persen, ikan serai 0,15 persen, minyak goreng 0,13 persen, serta jeruk 0,13 persen. Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan ini menunjukkan bahwa sektor pangan masih menjadi faktor utama pembentuk inflasi di Provinsi Jambi.

Di sisi lain, kelompok pakaian dan alas kaki justru mengalami deflasi sebesar 4,20 persen sehingga menjadi satu-satunya kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan harga secara tahunan. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh turunnya harga sejumlah produk pakaian anak dan alas kaki.

Pada kelompok transportasi, inflasi dipicu oleh kenaikan tarif angkutan penumpang yang melonjak hingga 20,14 persen secara tahunan. Komoditas seperti angkutan udara, mobil, pelumas mesin, sepeda motor dan tarif kendaraan travel menjadi penyumbang utama kenaikan harga pada sektor ini.

Sementara itu, kenaikan harga emas perhiasan masih menjadi faktor dominan dalam kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Komoditas ini sendiri memberikan andil inflasi sebesar 0,53 persen terhadap inflasi tahunan Provinsi Jambi.

Data BPS juga menunjukkan bahwa dibandingkan Mei 2025, kondisi inflasi Jambi tahun ini mengalami peningkatan cukup signifikan. Pada Mei tahun lalu, Provinsi Jambi masih mencatat inflasi tahunan sebesar 0,96 persen, sedangkan pada Mei 2026 telah meningkat menjadi 3,56 persen.

Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa tekanan harga kebutuhan masyarakat masih relatif tinggi, terutama pada sektor pangan, transportasi, serta komoditas yang dipengaruhi perkembangan harga global seperti emas. Pemerintah daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) diharapkan terus memperkuat langkah stabilisasi pasokan dan distribusi barang guna menjaga daya beli masyarakat serta mengendalikan laju inflasi pada bulan-bulan berikutnya.

Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi, Berita Resmi Statistik No. 31/06/15/Th. XX tentang Perkembangan Indeks Harga Konsumen Provinsi Jambi Mei 2026, diterbitkan 2 Juni 2026.

NUSAREPORT “Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *