
NUSAREPORT-Muara Bungo, Kamis 2 Juni 2026 – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bungo mencatat inflasi Year on Year (y-on-y) Muara Bungo pada Juni 2026 sebesar 4,72 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 113,83. Sementara itu, tingkat inflasi Month to Month (m-to-m) tercatat sebesar 0,04 persen dan inflasi Year to Date (y-to-d) sebesar 2,10 persen.
Rilis tersebut disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Bungo, Ardiansyah, S.ST., M.E., melalui Berita Resmi Statistik Nomor 07/07/1509/Th. XIV, pada Rabu, 1 Juli 2026.
Secara umum, inflasi tahunan di Muara Bungo dipengaruhi oleh kenaikan harga pada sebagian besar kelompok pengeluaran yang menjadi dasar penyusunan Indeks Harga Konsumen. Dari sebelas kelompok pengeluaran yang dipantau, sembilan kelompok mengalami inflasi, sedangkan dua kelompok lainnya mengalami deflasi.
Kelompok makanan, minuman dan tembakau masih menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi dengan tingkat inflasi sebesar 7,18 persen. Kelompok ini memberikan andil sebesar 2,09 persen terhadap inflasi tahunan. Di dalamnya, subkelompok makanan mengalami inflasi tertinggi sebesar 7,95 persen, sedangkan subkelompok minuman tidak beralkohol mengalami inflasi sebesar 0,95 persen.
Kelompok pakaian dan alas kaki mencatat inflasi sebesar 0,72 persen dengan kenaikan indeks dari 102,93 pada Juni 2025 menjadi 103,67 pada Juni 2026. Kelompok ini memberikan andil inflasi sebesar 0,05 persen.
Kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi sebesar 1,47 persen. Inflasi terutama dipengaruhi oleh kenaikan biaya bahan bakar rumah tangga, sementara kelompok ini memberikan andil sebesar 0,24 persen terhadap inflasi tahunan.
Berbeda dengan kelompok lainnya, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga justru mengalami deflasi sebesar 0,16 persen. Penurunan harga pada kelompok ini memberikan andil deflasi sebesar 0,01 persen terhadap inflasi tahunan.
Kelompok kesehatan mengalami inflasi sebesar 0,36 persen dengan kontribusi terhadap inflasi sebesar 0,01 persen. Sementara kelompok transportasi mengalami inflasi sebesar 2,54 persen dan memberikan andil sebesar 0,30 persen, terutama dipengaruhi kenaikan harga bensin serta tarif angkutan udara.
Pada kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan terjadi inflasi sebesar 0,66 persen dengan andil sebesar 0,04 persen. Di sisi lain, kelompok rekreasi, olahraga dan budaya mengalami deflasi sebesar 0,77 persen sehingga memberikan andil deflasi sebesar 0,01 persen.
Kelompok pendidikan mengalami inflasi sebesar 3,12 persen dengan kontribusi sebesar 0,11 persen. Kenaikan biaya akademi atau perguruan tinggi, pendidikan taman kanak-kanak, serta pendidikan sekolah dasar menjadi faktor yang mendorong kenaikan pada kelompok ini.
Sementara itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran mengalami inflasi sebesar 4,49 persen dengan andil sebesar 0,42 persen. Kenaikan harga ayam goreng, bakso siap santap, nasi dengan lauk, mie, ikan bakar, martabak, sate, dan sejumlah makanan siap saji lainnya menjadi penyumbang utama kelompok ini.
Inflasi tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mencapai 17,36 persen. Kelompok ini juga menjadi penyumbang inflasi terbesar kedua setelah makanan, minuman dan tembakau dengan andil sebesar 1,48 persen. Kenaikan harga emas perhiasan menjadi faktor dominan yang mendorong inflasi kelompok ini, disusul pembalut wanita, lipstik, sabun wajah, sabun mandi, bedak, sampo, hand body lotion dan sabun mandi cair.
BPS mencatat sejumlah komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan di Muara Bungo. Di antaranya emas perhiasan, cabai merah, bahan bakar rumah tangga, minyak goreng, bensin, bawang merah, Sigaret Kretek Tangan (SKT), tomat, Sigaret Kretek Mesin (SKM), ikan nila, ikan cakalang atau ikan sisik, cabai rawit, ikan serai, ayam goreng, bakso siap santap, daging sapi, angkutan udara, ikan tongkol atau ikan ambu-ambu, daging ayam ras, ayam hidup, biaya akademi atau perguruan tinggi, nasi dengan lauk dan mie. Sebaliknya, beberapa komoditas yang memberikan andil terhadap deflasi antara lain santan segar, kentang, petai, jengkol, tahu mentah, udang basah, tempe, daun singkong, ketimun dan garam.
Untuk inflasi bulanan sebesar 0,04 persen, komoditas yang dominan memberikan andil inflasi adalah bensin, tomat, jengkol, bawang putih, sawi putih atau pecay, bawang merah, wortel, petai, cabai rawit dan Sigaret Kretek Tangan. Adapun komoditas yang memberikan andil terhadap deflasi bulanan antara lain daging ayam ras, ikan serai, bayam, kangkung, telur ayam ras, tahu mentah, ikan cakalang atau ikan sisik, ikan tongkol atau ikan ambu-ambu, udang basah, ikan nila dan tempe.
Jika dibandingkan dengan dua tahun sebelumnya, inflasi tahunan Muara Bungo menunjukkan peningkatan. Pada Juni 2024 inflasi tercatat sebesar 3,25 persen, kemudian menurun menjadi 2,03 persen pada Juni 2025, dan kembali meningkat menjadi 4,72 persen pada Juni 2026. Untuk inflasi bulanan, Juni 2024 tercatat sebesar -0,14 persen, Juni 2025 sebesar -0,17 persen, sedangkan Juni 2026 menjadi 0,04 persen. Sementara inflasi tahun kalender hingga Juni masing-masing sebesar 2,12 persen pada 2024, 2,10 persen pada 2025, dan tetap 2,10 persen pada 2026.
Infografis resmi BPS Kabupaten Bungo juga menunjukkan bahwa inflasi Year on Year Muara Bungo sebesar 4,72 persen berada di atas Kota Jambi yang tercatat sebesar 3,60 persen pada Juni 2026. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan kenaikan harga di Muara Bungo masih relatif lebih tinggi dibandingkan ibu kota provinsi.
Secara keseluruhan, perkembangan inflasi Juni 2026 menunjukkan bahwa tekanan harga di Muara Bungo masih didominasi oleh kenaikan harga komoditas pangan, energi, transportasi, jasa makanan, serta emas perhiasan. Di sisi lain, penurunan harga pada sejumlah komoditas tertentu turut menahan laju inflasi sehingga tingkat inflasi bulanan tetap berada pada level 0,04 persen. Data tersebut menjadi gambaran penting mengenai dinamika harga barang dan jasa di Kabupaten Bungo sekaligus menjadi salah satu indikator kondisi ekonomi daerah pada pertengahan tahun 2026.
NUSAREPORT “Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta”