NUSAREPORT-Jambi, Rabu 1 Juli 2026,Laju inflasi di Provinsi Jambi kembali menunjukkan tren peningkatan. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) pada Juni 2026 mencapai 3,85 persen, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari seluruh daerah penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jambi, Muara Bungo menjadi wilayah dengan inflasi tertinggi, yakni 4,72 persen.

Data resmi BPS yang dirilis Rabu (1/7/2026) menunjukkan inflasi Provinsi Jambi pada Juni 2026 dibarengi dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,48. Selain itu, inflasi bulanan (month to month/m-to-m) tercatat sebesar 0,52 persen, sedangkan inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) mencapai 1,79 persen.

Tingginya inflasi tahunan dipicu oleh kenaikan harga pada hampir seluruh kelompok pengeluaran masyarakat. Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan inflasi 6,65 persen, disusul Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya sebesar 6,60 persen, Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran sebesar 4,33 persen, serta Transportasi sebesar 3,93 persen. Sementara itu, hanya kelompok Pakaian dan Alas Kaki yang mengalami deflasi sebesar 4,06 persen.

Secara wilayah, Muara Bungo mencatat inflasi tahunan tertinggi di Provinsi Jambi sebesar 4,72 persen dengan IHK 113,83. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Kerinci dengan inflasi 4,30 persen, sedangkan Kota Jambi menjadi daerah dengan inflasi terendah, yakni 3,60 persen.
Menariknya, meski menjadi daerah dengan inflasi tahunan tertinggi, Muara Bungo justru mencatat inflasi bulanan paling rendah, hanya 0,04 persen. Sebaliknya, Kabupaten Kerinci mengalami inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,72 persen, sedangkan Kota Jambi sebesar 0,51 persen.

BPS menjelaskan, sejumlah komoditas memberikan kontribusi besar terhadap inflasi tahunan di Provinsi Jambi. Di antaranya emas perhiasan, cabai merah, bensin, nasi dengan lauk, bahan bakar rumah tangga, daging ayam ras, minyak goreng, jeruk, bawang merah, ikan serai, bayam, kangkung, tomat, telur ayam ras, hingga angkutan udara. Kenaikan harga berbagai komoditas tersebut menjadi faktor dominan yang mendorong inflasi selama setahun terakhir.

Sementara itu, untuk inflasi bulanan Juni 2026, kenaikan harga terutama dipengaruhi oleh bensin, bawang merah, bawang putih, bayam, jengkol, tomat, kangkung, wortel, minyak goreng, serta beberapa komoditas pangan lainnya.

Dari sisi kontribusi kelompok pengeluaran, kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 2,10 persen terhadap inflasi tahunan Provinsi Jambi. Selanjutnya diikuti kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya sebesar 0,50 persen, Transportasi sebesar 0,48 persen, Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran sebesar 0,40 persen, serta Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga sebesar 0,39 persen.

Dibandingkan Juni 2025, tekanan inflasi di Provinsi Jambi mengalami peningkatan cukup signifikan. Pada Juni tahun lalu, inflasi tahunan tercatat 1,34 persen, sedangkan pada Juni 2026 melonjak menjadi 3,85 persen. Inflasi bulanan juga meningkat dari 0,24 persen menjadi 0,52 persen, sementara inflasi tahun kalender naik dari 1,65 persen menjadi 1,79 persen.

Data ini menunjukkan tekanan harga di Provinsi Jambi masih didominasi oleh kelompok pangan, energi, transportasi, dan jasa. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa upaya menjaga stabilitas pasokan dan kelancaran distribusi komoditas strategis masih menjadi kunci pengendalian inflasi sekaligus menjaga daya beli masyarakat pada paruh kedua Tahun 2026.

NUSAREPORT “Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *