NUSAREPORT-Jakarta, Jumat 13 Maret 2026, Memanasnya dinamika geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah, dinilai mulai menjadi alarm bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Ketegangan yang melibatkan kekuatan besar dunia tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan, tetapi juga berpotensi menimbulkan tekanan terhadap ketahanan energi, stabilitas ekonomi, hingga keamanan nasional.

Situasi tersebut menjadi sorotan dalam Dialog Nasional bertajuk “Tantangan Kedaulatan Nasional di Tengah Gejolak Geopolitik Global” yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Resimen Mahasiswa Indonesia (IARMI) di Auditorium Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis (12/3/2026).

Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional IARMI, Bahrullah Akbar, mengatakan konflik yang melibatkan negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Israel, dan Iran tidak lagi dapat dipandang sebagai konflik regional semata. Menurutnya, eskalasi ketegangan tersebut memiliki dampak berantai terhadap stabilitas ekonomi global, termasuk pada sektor energi dan perdagangan.

Ia menilai Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat ketahanan nasional agar tetap mampu menjaga stabilitas dan kedaulatan negara di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.

“Ketahanan nasional menjadi fondasi penting agar Indonesia tetap mampu menjaga kedaulatannya di tengah tekanan geopolitik global,” ujar Bahrullah.

Ia juga menekankan pentingnya meningkatkan literasi geopolitik di tengah masyarakat, khususnya generasi muda. Menurutnya, kesadaran geopolitik yang kuat akan membantu masyarakat memahami dinamika global secara lebih objektif dan tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang dapat memicu polarisasi sosial di dalam negeri.

Dalam dialog tersebut, akademisi dari Universitas Al Azhar Indonesia, Heri Herdiawanto, menjelaskan bahwa karakter konflik global saat ini telah mengalami perubahan signifikan. Konflik tidak lagi hanya berlangsung dalam bentuk perang konvensional, tetapi berkembang menjadi perang hibrida yang memadukan kekuatan militer, tekanan ekonomi, serta operasi informasi melalui ruang digital.

Menurutnya, eskalasi konflik yang melibatkan Israel, Iran, dan Amerika Serikat juga memperlihatkan bagaimana perang narasi global dan serangan terhadap infrastruktur digital strategis menjadi bagian dari dinamika konflik modern.

“Kedaulatan negara saat ini tidak hanya diuji secara militer, tetapi juga dalam dimensi diplomasi, ekonomi, dan keamanan digital,” kata Heri.

Sementara itu, pakar geografi politik Rasminto menegaskan bahwa kesiapsiagaan pertahanan negara merupakan bagian dari amanat konstitusi. Ia merujuk pada Undang-Undang Dasar 1945, khususnya Pasal 30, yang menegaskan bahwa sistem pertahanan dan keamanan negara menjadi tanggung jawab seluruh komponen bangsa.

Menurutnya, kesiapsiagaan militer tidak boleh dipersepsikan sebagai sikap agresif, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab negara dalam melindungi kedaulatan serta keselamatan rakyat di tengah dinamika geopolitik global.

Rasminto menambahkan bahwa meskipun Indonesia tidak terlibat langsung dalam konflik di Timur Tengah, dampak tidak langsung tetap perlu diantisipasi secara serius. Gangguan rantai pasok global, potensi lonjakan harga energi, hingga meningkatnya polarisasi sosial akibat perang narasi global merupakan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas nasional.

Karena itu, penguatan ketahanan nasional, mulai dari sektor energi, ekonomi, hingga kesiapsiagaan pertahanan dan literasi geopolitik masyarakat, menjadi langkah strategis agar Indonesia tetap mampu menjaga stabilitas dan kedaulatannya di tengah perubahan lanskap geopolitik dunia yang semakin cepat.

NUSAREPORT “Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *