
NUSAREPORT-Pos Lampung, Rabu 18 Maret 2026, Arus mudik Lebaran 2026 di lintasan penyeberangan Sumatera–Jawa menunjukkan lonjakan signifikan. Dalam 24 jam terakhir, sebanyak 52.707 orang tercatat menyeberang dari Pelabuhan Bakauheni menuju Pelabuhan Merak. Peningkatan ini menjadi indikator awal puncak pergerakan pemudik yang diprediksi terjadi dalam beberapa hari ke depan.
General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Bakauheni, Partogi Tamba, menyebutkan angka tersebut naik 11,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan tidak hanya terjadi pada jumlah penumpang, tetapi juga pada sebagian kategori kendaraan, terutama angkutan logistik dan bus.
Data menunjukkan kendaraan roda dua mencapai 754 unit atau naik 19,5 persen, sementara truk meningkat tajam menjadi 1.799 unit atau naik 23,6 persen. Adapun kendaraan roda empat tercatat 6.197 unit, dengan dinamika fluktuatif dibanding tahun sebelumnya. Secara total, kendaraan yang menyeberang mencapai 9.565 unit atau naik 13,3 persen.
Meski volume meningkat, kondisi di pelabuhan relatif terkendali tanpa antrean panjang di area parkir maupun akses masuk. ASDP mengklaim telah mengantisipasi lonjakan dengan menyiagakan ratusan petugas gabungan serta memastikan kesiapan armada kapal dan sistem layanan tiket.
Namun demikian, potensi kemacetan tidak hanya berada di area pelabuhan, melainkan juga di jalur darat yang menghubungkan titik-titik strategis di Sumatera dan Jawa.
Di wilayah Sumatera, kepadatan diperkirakan terjadi di ruas Jalur Lintas Timur Sumatera, khususnya di sekitar titik temu kendaraan dari arah Palembang, Jambi, hingga Lampung. Kawasan seperti Bayung Lencir dikenal sebagai bottleneck akibat pertemuan arus logistik dan kendaraan pribadi. Selain itu, akses menuju Bakauheni dari arah Bandar Lampung juga berpotensi mengalami perlambatan saat volume kendaraan meningkat drastis.
Sementara di Pulau Jawa, potensi kemacetan teridentifikasi di jalur keluar Pelabuhan Merak menuju jaringan jalan utama. Ruas tol seperti Tol Jakarta–Merak menjadi titik krusial yang kerap mengalami kepadatan, terutama saat kendaraan menumpuk setelah proses bongkar muat kapal. Distribusi kendaraan ke arah Jakarta dan sekitarnya juga berisiko tersendat pada jam-jam puncak.
Selain itu, jalur arteri di Banten hingga perbatasan DKI Jakarta kerap menjadi alternatif bagi pemudik, namun kondisi ini justru dapat memicu kepadatan baru akibat percampuran kendaraan lokal dan pemudik.
Faktor cuaca turut menjadi variabel penting. Kondisi cuaca ekstrem yang terjadi di sejumlah wilayah berpotensi memperlambat waktu tempuh, baik di jalur darat maupun penyeberangan. ASDP mengimbau masyarakat untuk memantau informasi cuaca dan melakukan perjalanan secara terencana, termasuk memanfaatkan sistem tiket online untuk menghindari antrean.
Dengan tren peningkatan pergerakan yang terus terjadi, koordinasi lintas sektor menjadi kunci dalam menjaga kelancaran arus mudik. Tanpa pengelolaan yang optimal, lonjakan volume kendaraan berpotensi menciptakan kemacetan berlapis, tidak hanya di pelabuhan, tetapi juga di jalur penghubung antarwilayah.
NUSAREPORT “Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta”