Politik Indonesia sedang berhadapan dengan perubahan generasi yang tidak sederhana. Generasi Z tidak lagi sekadar menjadi kelompok yang akan mewarisi Indonesia. Mereka mulai memasuki dunia kerja, ruang publik, komunitas, pemerintahan, dunia usaha, teknologi dan politik. Dalam beberapa tahun ke depan, semakin banyak dari mereka yang bukan hanya menjadi pemilih, tetapi juga menjadi penggerak masyarakat dan calon pemimpin.
Karena itu, ketika Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri melantik kepengurusan Dewan Pimpinan Pusat Taruna Merah Putih (TMP) periode 2025–2030, pesan yang disampaikannya sesungguhnya memiliki makna jauh lebih besar daripada sekadar agenda organisasi kepemudaan. Megawati meminta TMP membangun bonding dengan generasi muda, menjadi ruang terbuka bagi anak muda untuk mendapatkan pendidikan politik, membangun semangat juang dan melakukan kerja nyata di tengah rakyat. Pesan tersebut kemudian diterjemahkan Ketua Umum DPP TMP Diah Pikatan O. P. Haprani atau Pinka melalui sebuah gagasan yang sederhana tetapi menarik: “Politik Menjadi Asik.”
Kalimat itu terdengar ringan. Namun jika dibaca lebih dalam, “Politik Menjadi Asik” dapat menjadi pintu masuk bagi agenda yang jauh lebih besar: bagaimana sebuah organisasi kepemudaan partai menyiapkan generasi baru untuk memahami politik, bekerja untuk rakyat dan pada waktunya memimpin Indonesia. Sebab persoalannya bukan sekadar bagaimana TMP mendapatkan perhatian Gen Z. Persoalannya adalah bagaimana TMP membuat generasi muda merasa bahwa politik merupakan ruang yang layak untuk mereka masuki.
Data kepemiluan menunjukkan mengapa agenda tersebut penting. Pada Pemilu 2024, generasi muda menjadi kelompok dominan dalam daftar pemilih. Untuk Pemilu 2029, pemilih muda juga diperkirakan tetap menjadi kekuatan demografis yang sangat besar. Tetapi angka demografi saja tidak cukup. Generasi muda tidak boleh hanya dilihat sebagai pasar suara. Mereka harus dilihat sebagai modal kepemimpinan bangsa.
TMP memiliki peluang strategis. Jika orientasinya hanya Pemilu 2029, TMP mungkin cukup membuat kampanye yang menarik, membangun konten digital dan mengorganisasi pemilih muda. Tetapi jika orientasinya Indonesia 2045, pekerjaan TMP jauh lebih besar. TMP harus menyiapkan anak muda yang hari ini belajar politik untuk menjadi pemimpin yang kelak mampu mengelola pemerintahan, parlemen, dunia usaha, masyarakat sipil dan berbagai institusi strategis negara. Dengan kata lain, Pemilu 2029 hanyalah salah satu titik dalam perjalanan. Indonesia 2045 adalah cakrawalanya.
Dari perspektif itulah “Politik Menjadi Asik” dapat dikembangkan menjadi tujuh jalan strategis. Jalan pertama adalah menjadikan pendidikan politik sebagai pintu masuk. Pendidikan politik untuk Gen Z tidak bisa dilakukan dengan pendekatan lama yang hanya mengandalkan ceramah tentang partai, sejarah politik atau teori kenegaraan. Anak muda perlu diajak memahami bagaimana politik bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Mengapa harga kebutuhan pokok berubah? Mengapa lapangan pekerjaan menjadi persoalan politik? Bagaimana APBN dan APBD bekerja? Mengapa pemerintah membuat sebuah kebijakan? Bagaimana DPR mengawasi pemerintah? Bagaimana sebuah undang-undang dibuat? Pertanyaan konkret semacam itu justru membuat politik terasa dekat.
TMP dapat mengembangkan pendidikan politik berjenjang melalui semacam TMP Political Academy, yang mempertemukan pelajar, mahasiswa, komunitas dan pemuda dengan materi Pancasila, konstitusi, demokrasi, sistem pemerintahan, pemilu, kebijakan publik, penganggaran, kepemimpinan, komunikasi publik dan etika politik. Dengan begitu, TMP tidak hanya mengajarkan anak muda bagaimana memilih, tetapi juga bagaimana memahami negara.
Jalan kedua adalah membangun ruang demokrasi digital. Gen Z hidup dalam dunia informasi yang bergerak sangat cepat. Mereka memperoleh informasi politik melalui media sosial, video pendek, komunitas digital dan berbagai platform yang membuat batas antara informasi, opini dan disinformasi semakin tipis. Karena itu, TMP dapat membangun Digital Democracy Lab, ruang pembelajaran mengenai literasi digital, pemeriksaan fakta, pengenalan disinformasi, produksi konten edukatif, komunikasi publik dan etika bermedia sosial. Anak muda tidak cukup hanya menjadi konsumen informasi politik. Mereka perlu didorong menjadi produsen pengetahuan politik yang sehat. Demokrasi yang kuat membutuhkan warga yang mampu memeriksa informasi sebelum mempercayainya dan mampu berbeda pendapat tanpa kehilangan penghormatan terhadap pihak lain.
Jalan ketiga adalah membangun forum kepemimpinan muda. Kaderisasi politik tidak boleh berhenti pada perekrutan anggota. Kaderisasi harus menghasilkan manusia yang memiliki kemampuan memimpin. TMP dapat membangun Young Leaders Forum, tempat anak muda belajar mengelola organisasi, memimpin diskusi, berbicara di depan publik, menyusun program, melakukan riset sederhana dan menyelesaikan persoalan masyarakat. Setiap peserta bahkan dapat diarahkan menghasilkan satu proyek sosial atau gagasan kebijakan. Dengan demikian, ukuran keberhasilan kaderisasi tidak lagi sekadar berapa banyak anak muda yang bergabung, tetapi berapa banyak pemimpin muda yang berhasil dilahirkan.
Jalan keempat adalah membawa politik ke tempat anak muda berada. Anak muda tidak harus selalu diminta datang ke ruang politik. Politik justru perlu hadir di ruang kehidupan mereka: kampus, sekolah, komunitas olahraga, komunitas kreatif, ruang kewirausahaan, desa, lingkungan perkotaan dan ruang digital. TMP dapat mengembangkan pendekatan seperti TMP Goes to Campus, School and Community dengan membawa pertanyaan sederhana tetapi mendasar: Anak muda mau Indonesia seperti apa?
Pembicaraannya bisa dimulai dari pekerjaan, pendidikan, ekonomi kreatif, kecerdasan buatan, lingkungan, kewirausahaan, perumahan, transportasi hingga masa depan desa. Tidak perlu selalu dimulai dengan pidato politik. Mulailah dengan mendengarkan. Ketika anak muda berbicara tentang masa depan pekerjaannya, sesungguhnya mereka sedang berbicara tentang kebijakan. Ketika mereka membicarakan pendidikan, mereka sedang berbicara tentang anggaran dan prioritas negara. Ketika mereka membicarakan lingkungan, mereka sedang berbicara tentang arah pembangunan. Politik sebenarnya sudah berada di sana. Yang dibutuhkan adalah jembatan agar mereka menyadarinya.
Jalan kelima adalah menjadikan anak muda sebagai sumber gagasan kebijakan. TMP dapat mengembangkan Youth Policy Challenge, sebuah ruang yang memberikan kesempatan kepada generasi muda menyusun solusi atas persoalan nyata. Pengangguran muda, ekonomi kreatif, transformasi digital, pendidikan, lingkungan, pertanian, kewirausahaan dan dampak kecerdasan buatan terhadap dunia kerja dapat menjadi tema. Gagasan terbaik tidak berhenti sebagai kompetisi, tetapi dipertemukan dengan anggota DPR, pemerintah daerah, akademisi, praktisi dan pengambil kebijakan. Di sini terjadi perubahan penting: anak muda bukan lagi sekadar objek pendidikan politik, tetapi menjadi sumber gagasan politik. TMP dapat berkembang menjadi laboratorium gagasan kebijakan generasi muda.
Jalan keenam adalah membuktikan bahwa politik merupakan kerja nyata. Pesan Megawati agar kader TMP turun langsung ke tengah rakyat menjadi sangat penting dalam konteks ini. Politik akan kehilangan makna apabila hanya hadir menjelang pemilu. Anak muda dapat dilibatkan dalam pendampingan UMKM, literasi digital, kegiatan lingkungan, pendidikan masyarakat, kewirausahaan, pengembangan komunitas dan berbagai persoalan sosial lainnya. Program semacam itu harus memiliki target dan hasil yang terukur. Sebuah komunitas tidak hanya dikunjungi, tetapi didampingi. Pelaku usaha muda tidak hanya diberi motivasi, tetapi dibantu meningkatkan kapasitasnya. Anak muda di desa tidak hanya diajak berkegiatan, tetapi diberikan ruang untuk mengembangkan potensi. Dengan begitu, kader TMP belajar bahwa politik bukan hanya kemampuan berbicara tentang rakyat, tetapi kemampuan bekerja bersama rakyat.
Jalan ketujuh adalah membangun inkubator pemimpin masa depan. Enam jalan sebelumnya pada akhirnya harus bertemu pada satu tujuan: regenerasi kepemimpinan. TMP dapat mengembangkan Youth Leadership Incubator bagi anak muda yang telah melewati pendidikan politik, forum kepemimpinan, kegiatan sosial dan pengembangan gagasan kebijakan. Mereka dapat memperoleh mentor, pengalaman organisasi, pemahaman pemerintahan, kesempatan berdialog dengan tokoh nasional dan daerah serta ruang untuk mengembangkan gagasan.
Tidak semuanya harus menjadi politisi. Sebagian mungkin menjadi pengusaha, akademisi, birokrat, profesional teknologi, aktivis sosial, pemimpin komunitas atau anggota legislatif. Yang penting, mereka tumbuh sebagai generasi yang memiliki kapasitas, nilai kebangsaan dan pengalaman bekerja untuk masyarakat. Di titik inilah TMP dapat menemukan makna strategisnya bagi PDI Perjuangan.
TMP tidak harus dipandang hanya sebagai organisasi yang mendekati pemilih muda. TMP dapat diposisikan sebagai salah satu ruang regenerasi politik dan laboratorium kepemimpinan muda. Partai politik yang memikirkan masa depan tidak cukup hanya memikirkan siapa yang akan memenangkan pemilu berikutnya. Ia harus memikirkan siapa yang akan menjadi pemimpin sepuluh, dua puluh atau tiga puluh tahun mendatang. Karena itu, investasi terbesar sebuah partai sesungguhnya bukan hanya investasi elektoral. Investasi terbesar adalah investasi manusia.
Gen Z tidak perlu didekati hanya karena jumlahnya besar. Mereka perlu dihargai karena mereka adalah generasi yang akan mengisi Indonesia pada masa depan. Cara pandang ini penting agar “Politik Menjadi Asik” tidak berhenti sebagai slogan. Asik bukan berarti politik berubah menjadi hiburan. Asik berarti politik menjadi dekat, terbuka, relevan dan memberi ruang bagi anak muda untuk tumbuh.
Mereka datang karena ingin belajar. Datang karena ingin berdiskusi. Datang karena memiliki gagasan. Datang karena ingin mengabdi. Dan akhirnya, datang karena melihat bahwa politik dapat menjadi ruang untuk memperjuangkan masa depan.
Jika pendekatan tersebut berhasil dibangun, TMP tidak hanya sedang membuka pintu politik bagi Gen Z. TMP sedang membuka jalan bagi generasi baru untuk menemukan tempatnya dalam perjalanan Indonesia.
Bagi PDI Perjuangan, momentum ini juga dapat menjadi kesempatan untuk memperlihatkan bahwa regenerasi politik bukan sekadar mengganti wajah lama dengan wajah baru. Regenerasi adalah memindahkan nilai kepada generasi berikutnya sekaligus memberikan mereka ruang untuk menciptakan cara baru dalam menjawab persoalan bangsa.
Karena itu, tantangan TMP periode 2025–2030 seharusnya tidak berhenti pada target Pemilu 2029. Pemilu 2029 adalah momentum. Indonesia 2045 adalah tujuan yang lebih besar.
Bayangkan jika anak muda yang hari ini berada di ruang pendidikan politik mendapatkan pengalaman kepemimpinan, pengalaman mengabdi, kemampuan membaca kebijakan dan kesempatan mengembangkan gagasan. Sepuluh tahun kemudian, sebagian dari mereka mungkin telah menjadi pemimpin komunitas. Lima belas tahun kemudian, sebagian menjadi pengambil keputusan. Dan ketika Indonesia memasuki momentum 2045, mereka berada pada usia produktif dan kepemimpinan.
Itulah investasi politik yang sesungguhnya. Bukan investasi untuk satu pemilu, melainkan investasi untuk satu generasi.
Karena itu, “Politik Menjadi Asik” seharusnya menjadi lebih dari sekadar tagline. Ia dapat menjadi filosofi kaderisasi: masuk melalui pendidikan, tumbuh melalui pengalaman, matang melalui pengabdian dan memimpin melalui keteladanan.
Jika tujuh jalan tersebut dapat diwujudkan secara konsisten, TMP bukan hanya sedang berbicara tentang bagaimana mendapatkan perhatian Gen Z. TMP sedang mempersiapkan generasi yang suatu hari akan menentukan arah Indonesia.
Dan bagi PDI Perjuangan, inilah kesempatan untuk menunjukkan bahwa politik tidak hanya berbicara tentang siapa yang memimpin hari ini. Politik juga harus berani menyiapkan siapa yang akan memimpin Indonesia esok.
Sebab Indonesia 2045 tidak akan lahir tiba-tiba. Ia sedang dipersiapkan hari ini, di sekolah, kampus, komunitas, desa, ruang digital, organisasi kepemudaan dan ruang kaderisasi politik.
Di sanalah TMP dapat mengambil peran. Bukan sekadar menjadi organisasi pemuda sebuah partai, tetapi menjadi ruang tumbuh bagi calon-calon pemimpin Indonesia.*Budi Prasetiyo.













