NUSAREPORT-Ada perubahan dalam diri seseorang yang kadang tidak terlihat ketika ia mulai memperoleh kekuasaan, jabatan, keberhasilan atau pengaruh. Pada awalnya mungkin hanya berupa rasa percaya diri yang semakin tinggi. Lama-kelamaan, ia mulai merasa lebih mengetahui banyak hal dibanding orang lain, semakin sulit menerima kritik, dan merasa keputusan yang diambilnya hampir selalu benar. Orang-orang di sekitarnya pun ikut berubah. Mereka yang sebelumnya berani menyampaikan pendapat mulai berhati-hati, sementara mereka yang selalu memberikan dukungan justru semakin dekat. Dalam suasana seperti itu, seseorang dapat perlahan kehilangan kemampuan untuk melihat dirinya secara objektif.
Fenomena semacam ini dikenal dalam literatur kepemimpinan dengan istilah hubris. Kata tersebut berasal dari bahasa Yunani kuno yang menggambarkan kesombongan atau rasa percaya diri yang berlebihan. David Owen dan Jonathan Davidson dalam kajiannya yang diterbitkan di Brain pada 2009 memperkenalkan pembahasan mengenai Hubris Syndrome, yaitu perubahan perilaku atau pola kepribadian yang dapat muncul sebagai konsekuensi dari kekuasaan yang berlangsung dalam waktu tertentu. Penting dicatat, Hubris Syndrome bukan diagnosis psikiatri yang diterima secara universal. Karena itu, istilah tersebut tidak tepat digunakan untuk mendiagnosis seseorang hanya karena ia terlihat sombong, keras kepala, atau menduduki jabatan tinggi. Yang lebih penting adalah memahami hubris sebagai suatu gejala atau kecenderungan perilaku yang dapat muncul ketika kekuasaan, keberhasilan dan lingkungan sekitar tidak lagi memberikan ruang yang cukup bagi koreksi diri.
Kajian Vita Akstinaitė dan sejumlah peneliti dalam Hubristic Leadership: A Review menunjukkan bahwa kepemimpinan yang bersifat hubristik berkaitan dengan rasa percaya diri yang berlebihan, penilaian yang terlalu tinggi terhadap kemampuan diri, kecenderungan meremehkan nasihat, serta pengambilan keputusan yang terlalu yakin terhadap kemampuan sendiri. Masalahnya bukan sekadar seseorang memiliki keyakinan terhadap dirinya. Kepercayaan diri justru dibutuhkan dalam kepemimpinan. Persoalan muncul ketika keyakinan itu tidak lagi diimbangi kesediaan mendengar, kemampuan mengakui kesalahan, dan kemauan mempertimbangkan pandangan yang berbeda.
Gejala tersebut dapat muncul di berbagai ruang kehidupan. Politik adalah salah satu contohnya, tetapi bukan satu-satunya. Setelah seseorang memenangkan Pileg, Pilpres, atau Pilkada, misalnya, terjadi perubahan posisi dan tingkat pengaruh. Ia memperoleh mandat, kewenangan dan akses terhadap sumber daya yang sebelumnya tidak dimiliki.. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana seseorang merespons kemenangan tersebut. Apakah mandat membuatnya semakin terbuka terhadap kritik dan masukan, atau justru membuatnya merasa bahwa kemenangan merupakan bukti bahwa dirinya selalu benar.
Hal yang sama dapat terjadi dalam birokrasi. Seorang pejabat yang memperoleh promosi dapat mengalami perubahan lingkungan kerja. Bawahan menjadi lebih sungkan menyampaikan kritik, laporan yang sampai ke meja pimpinan bisa semakin tersaring, dan keputusan yang dipersoalkan mulai dianggap sebagai sesuatu yang tidak pantas diperdebatkan. Dalam organisasi, perusahaan, lembaga pendidikan, bahkan kelompok sosial, pola yang serupa juga dapat muncul. Seseorang yang semakin berhasil bisa dikelilingi orang-orang yang lebih sering mengatakan apa yang ingin didengar daripada apa yang sebenarnya perlu didengar.
Pada kondisi seperti itu, kekuasaan tidak hanya mengubah posisi seseorang, tetapi juga dapat mengubah cara orang lain memperlakukannya. Ada jarak yang semakin lebar antara pemegang kewenangan dengan orang-orang yang berada di bawahnya. Informasi yang tidak menyenangkan mungkin berhenti sebelum sampai kepada pengambil keputusan. Kritik yang semestinya menjadi bahan evaluasi dianggap sebagai gangguan. Perbedaan pendapat perlahan dipersepsikan sebagai bentuk ketidaksetiaan. Ketika keadaan ini berlangsung terus-menerus, seseorang dapat hidup dalam lingkungan yang hanya memantulkan keyakinannya sendiri. Ia mendengar banyak suara, tetapi semakin sedikit mendengar sesuatu yang benar-benar berbeda.
Akibatnya dapat menjadi serius ketika orang tersebut memegang kewenangan untuk mengambil keputusan penting. Keputusan publik menyangkut anggaran, pelayanan masyarakat, pembangunan, pendidikan, kesehatan maupun kebijakan organisasi tidak hanya membutuhkan keberanian mengambil keputusan. Semua itu membutuhkan kemampuan menerima informasi yang tidak menyenangkan sekalipun. Keputusan yang baik tidak selalu lahir dari orang yang paling yakin terhadap dirinya, tetapi sering kali justru dari proses yang memungkinkan sebuah gagasan diuji, dipertanyakan dan dikoreksi sebelum dilaksanakan.
Penelitian Akstinaitė dan kolega juga menarik karena melihat kemungkinan jejak hubris melalui penggunaan bahasa oleh para pemimpin perusahaan. Cara seseorang berbicara dapat menunjukkan tingkat keyakinan terhadap dirinya, cara memandang keberhasilan dan bagaimana ia menempatkan dirinya dibanding orang lain. Namun bahasa tetap tidak dapat digunakan sebagai alat diagnosis tunggal. Penelitian tersebut lebih tepat dipahami sebagai upaya mencari tanda-tanda perilaku yang dapat membantu menjelaskan bagaimana rasa percaya diri berlebihan berkembang dalam kepemimpinan.
Hubris juga tidak selalu lahir dari niat buruk. Keberhasilan yang berulang dapat membuat seseorang percaya bahwa cara yang digunakannya selalu benar. Ketika beberapa keputusan berhasil, pengalaman masa lalu berubah menjadi sumber keyakinan yang semakin kuat. Pada saat yang sama, kegagalan dapat lebih mudah dianggap sebagai kesalahan orang lain, keadaan yang tidak mendukung, atau informasi yang keliru. Jika tidak ada mekanisme koreksi, keberhasilan justru dapat menjadi perangkap psikologis. Seseorang mulai mempercayai pengalaman dirinya sendiri lebih daripada fakta yang sedang berubah di hadapannya.
Karena itu, kekuasaan membutuhkan pembatas sekaligus cermin. Dalam kehidupan bernegara, cermin itu dapat berupa lembaga legislatif, lembaga pemeriksa, media, masyarakat sipil, aturan hukum, data, dan partisipasi publik. Dalam organisasi, cermin tersebut dapat berupa dewan pengawas, mekanisme evaluasi, sistem pertanggungjawaban, serta budaya kerja yang memungkinkan bawahan menyampaikan kritik tanpa rasa takut. Keberadaan mekanisme tersebut bukan untuk melemahkan pemimpin. Justru sebaliknya, pengawasan dapat membantu seorang pemimpin agar tidak terjebak dalam keyakinannya sendiri.
Seorang pemimpin yang selalu mendapatkan pujian, tidak pernah menerima kritik, dan selalu dikelilingi orang yang mengatakan “ya” akan lebih mudah kehilangan perspektif. Sebaliknya, pemimpin yang masih memiliki orang-orang yang berani mengatakan “tidak”, menyampaikan data yang berbeda, mengingatkan kesalahan dan mempertanyakan keputusan, memiliki kesempatan lebih besar untuk menjaga keseimbangan dirinya.
Hubris lebih tepat dijadikan cermin untuk melihat bagaimana kekuasaan bekerja terhadap manusia dan bagaimana lingkungan di sekitar kekuasaan dapat memperkuat atau justru mengendalikan perubahan tersebut.
Pertanyaannya sederhana, tetapi penting untuk terus diajukan kepada siapa pun yang memegang kewenangan: ketika jabatan semakin tinggi, apakah kemampuan mendengar juga semakin besar, Ketika keberhasilan semakin banyak, apakah seseorang semakin mudah mengakui kekeliruan,Ketika dukungan semakin kuat, apakah kritik masih mendapatkan tempat, Dan ketika keputusan yang diambil menyangkut kepentingan banyak orang, apakah masih ada orang-orang yang cukup berani menyampaikan kebenaran yang mungkin tidak ingin didengar..
Sebab ketika jabatan membuat seseorang kehilangan kemampuan mendengar, keberhasilan membuatnya menutup diri dari koreksi, dan lingkungan hanya menyajikan pujian, yang berubah bukan lagi sekadar perilakunya. Cara ia melihat dirinya, orang lain, bahkan realitas di sekitarnya pun dapat ikut berubah.
Mungkin karena itu, setiap kekuasaan membutuhkan cermin. Cermin itu bisa berupa aturan, data, kritik, pengawasan, media, masyarakat, maupun orang-orang terdekat yang masih berani mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Selama cermin itu tetap ada dan seseorang masih bersedia melihat dirinya di dalamnya, kekuasaan dapat menjadi amanah. Persoalan mulai muncul ketika cermin-cermin tersebut satu per satu disingkirkan, sementara keyakinan terhadap diri sendiri terus membesar.* Budi Prasetiyo.












